Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia kembali berbicara soal strategi energi nasional di tengah ramainya keluhan masyarakat mengenai kelangkaan BBM dan antrean panjang di sejumlah daerah. Bahlil meminta lahan tidur dimanfaatkan untuk menanam singkong, jagung, dan tebu sebagai bahan baku etanol untuk campuran bensin.
Pernyataan tersebut disampaikan Bahlil saat meresmikan Kilang LPG Cilamaya milik PT Energi Nusantara Perkasa di Karawang, Jawa Barat, Kamis (15/10/2026). Ia meminta pemerintah daerah mengarahkan lahan yang belum produktif untuk menanam komoditas penghasil etanol.
Bahlil menjelaskan, pemerintah berencana mengembangkan bensin campuran etanol secara bertahap, mulai dari E20 hingga E50. Kebijakan tersebut ditujukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor bensin. Pemerintah juga menyiapkan PT Pertamina sebagai pembeli atau offtaker hasil produksi etanol dalam negeri.
Di tengah rencana tersebut, persoalan ketersediaan BBM masih menjadi perhatian masyarakat. Pada Jumat (16/10/2026), Bahlil menyebut stok BBM nasional berada pada kisaran 16–18 hari. Ia menjelaskan, penurunan stok Pertalite berkaitan dengan peralihan konsumen dari BBM nonsubsidi, seperti Pertamax, ke BBM bersubsidi.
Namun, pengembangan etanol berbasis singkong, jagung, dan tebu merupakan strategi jangka menengah untuk mengurangi ketergantungan impor. Sementara itu, persoalan pasokan dan antrean BBM yang dikeluhkan masyarakat membutuhkan penjelasan mengenai kondisi distribusi serta langkah konkret pemerintah untuk memastikan kebutuhan energi tetap terpenuhi.