Minggu, Mei 31, 2026

Banjir Bandang di Kota Batu Disebabkan Bendung Alam Jebol di Kawasan Hulu

Plt Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari menyampaikan penyebab banjir bandang di Kota Batu, Malang, Jawa Timur karena adanya bendung alam yang jebol di Kawasan hulu.

Bendung alam ini terjadi karena tanah longsor di dekat aliran sungai. Ketika ada hujan dengan intensitas tinggi, bending alam itu tidak mampu menahan tekanan air.

Akibatnya, banjir bandang terjadi. Banjir itu membawa material lumpur dan pohon yang ikut dalam longsoran.

Abdul Muhari menjelaskan hasil itu didapat setelah BNPB memonitor Kawasan hulu menggunakan helikopter.

Terlihat ada beberapa titik longsor di tebing-tebing yang berada di dekat aliran sungai. Lanjutnya, Kawasan perbukitan yang rawan longsor tersebut masuk kategori risiko menengah tingkat tinggi.

“Di bawah alur lembah sungai ada aliran air. Sisi tebing tidak dilindungi tumbuhan yang terlalu rapat dan memiliki akar kuat,” ucapnya.

“pada saat hujan tinggi, terjadi longsor kecil dan menjadi bending alam di aliran sungai tadi. Ini adalah salah satu spot yang kami cermati dari udara,” paparnya.

Kondiri di hilir yang banyak terdapat kebun musiman semakin memperparah banjir.

Pasalnya, tumbuhan kebun tidak cukup kuat untuk membendung banjir. Tidak adanya tahanan berupa pohon di Kawasan hilir ini membuat banjir semakin besar dengan lumpur dan kayu yang dibawanya.

“Di hilir cukup banyak kebun semusim di tebing sungai. Ketika hujan dengan intensitas tinggi, akar dari tanaman semusim tidak mengikat tanah sehingga membawa saturasi tanah ke bawah,” ucapnya.

“Konsekuensinya, akan menambah kontribusi sedimen Ketika ada air dari hulu. Ini yang perlu kita perhatikan,” terangnya.

Berdasarkan penyebab, BNPB menyarankan Pemkot Batu untuk membersihkan Kawasan hulu untuk membuka kemungkinan bendungan-bendungan alam yang masih ada.

Kemudian, menanam tanaman yang memiliki akar kuat agar potensi banjir bisa dikurangi. Lalu, menghidari lereng untuk lahan semusim dan penegakan aturan sempadan sungai diperkuat, terutama untuk penggunaan kebun semusim tadi.

Penanaman pohon di Kawasan datar juga perlu dilakukan supaya bisa menjadi lahan serapan Ketika menerima limpahan air dari hulu. “Dengan memahami kasus ini, sebab utamanya adalah bending alam yang terjadi,” ungkapnya.

Selain itu, BNPB juga mengimbau masyarakat untuk perlu waspada dan tahu waktu yang tepat kapan evakuasi saat hujan deras.

Muhari menyarankan masyarakat untuk memanfaatkan situasi alam yang ada. Jika hujan seras lebih dari satu jam, maka bisa melihat ke luar rumah.

Apabila jarak pandang 30 meter tidak terlihat, berarti curah hujan sedang tinggi. Itulah saatnya, masyarakat di bantaran sungai untuk evakuasi sementara sampai situasi aman. Termasuk juga di Kawasan infrastruktur seperti jalan dan jembatan.

Recent PostView All

Follow Us

Recent Post

Adblock Detected

Please support us by disabling your AdBlocker extension from your browsers for our website.