Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis UMY, Prof Imamudin Yuliadi, menilai maraknya lulusan perguruan tinggi yang bekerja sebagai pengemudi ojek online tidak serta-merta mencerminkan kegagalan pendidikan tinggi.
Ia menjelaskan bahwa sebagian besar lulusan sebenarnya tetap bercita-cita bekerja sesuai bidangnya, namun proses untuk mendapatkan pekerjaan ideal membutuhkan waktu sehingga banyak yang memilih ojol sebagai pekerjaan sementara.
Menurut Imamudin, ojek online dipilih karena sifatnya yang sangat inklusif dan mudah diakses.
Seseorang bisa langsung bekerja hanya bermodal kendaraan pribadi tanpa persyaratan rumit.
Pekerjaan ini juga menjadi katup pengaman dalam situasi ketenagakerjaan yang masih diwarnai tingkat pengangguran tinggi, bahkan menjadi solusi bagi pekerja yang terkena PHK di sejumlah sektor yang terkontraksi.
Ia menambahkan bahwa fenomena tersebut tidak bisa langsung diartikan bahwa kondisi ekonomi Indonesia memburuk.
Masih banyak sektor yang berkembang dan ekonomi nasional disebut memiliki ruang pertumbuhan lebih tinggi, terutama dengan percepatan penyerapan anggaran daerah serta program ekonomi seperti Multiplier Based Growth.
Walaupun demikian, Imamudin menegaskan bahwa fenomena sarjana menjadi pengemudi ojol tetap harus menjadi alarm bagi perguruan tinggi.
Kampus perlu memperkuat link and match karena dinamika industri berubah sangat cepat, sementara mahasiswa harus diberikan pengalaman nyata agar memahami dunia kerja sebelum lulus.
Ia menilai program magang yang diperluas pemerintah merupakan langkah positif untuk mempersiapkan lulusan yang lebih adaptif.
Menghadapi tantangan ketenagakerjaan, Imamudin menekankan pentingnya membangun iklim investasi yang kondusif, memperbaiki tata kelola pemerintahan, serta memperkuat UMKM dan koperasi.
Ia optimistis generasi muda memiliki peluang besar memanfaatkan karakter ekonomi daerah untuk menciptakan lapangan kerja baru dan meningkatkan kesejahteraan.