Rabu, Juli 1, 2026

Ganjar, Mahfud dan bagaimana proses menjadi pemimpin

Ada hal yang menghantui hampir setiap perusahaan keluarga di Indonesia. Kenapa? Karena ada banyak perusahaan keluarga yang akhirnya hancur setelah tongkat estafet diberikan ke generasi berikutnya.

Beberapa faktor menyebabkan hal itu terjadi. Namun umumnya ada perbedaan mencolok soal kualitas kepemimpinan antara generasi pertama dengan penerusnya. Generasi pertama biasanya harus berdarah-darah dan menjalani proses yang menyakitkan sebelum sampai posisi puncak. Mental dan jiwa kepemimpinannya otomatis terasah.

Masalah kemudian muncul ketika si perintis memasuki akhir masa kariernya. Jika dirinya sudah mempersiapkan penerusnya dengan matang tentu tak jadi soal. Namun sebagian besar yang terjadi justru sebaliknya.

Alih-alih mendidiknya untuk berproses, para bos generasi pertama itu justru membesarkan anak atau calon penerus dalam bingkai kemudahan dan kenyamanan hidup. Dengan dalih “Anak saya tidak boleh mengalami kepahitan hidup seperti yang saya alami”, menjadi pembenaran mereka dalam memanjakan sang anak.

Tanpa harus bersusah-susah berproses, si anak minimal langsung mendapat posisi menengah di perusahaan. Kemudian yang terjadi si anak bakal mendapat banyak pujian karena berhasil memajukan divisi perusahaan yang dipegangnya. “Anak ini masih sangat muda dan belum berpengalaman. Tapi lihatlah, divisinya maju dengan pesat.”

Orang diluar perusahaan mungkin dengan mudah terpesona atas “prestasi” si anak. Tapi bagi kalangan “orang dalam” yang paham dinamika perusahaan, apa yang diraih oleh si anak bos itu sama sekali bukan hal istimewa. Mereka semua mahfum, kalau dibalik itu semua ada campur tangan dan dukungan penuh ayahnya.

Program-program di divisi si anak mendapat perhatian penuh. Dukungan penuh pembiayaan dari pusat, bahkan sampai perencana dan eksekutor program kelas satu bakal dengan mudah dihadirkan. Dengan begitu citra si anak bagi orang-orang diluar perusahaan bakal terus naik. Pemimpin muda yang brilian.

Citra si anak sebagai pemimpin lokal bakal terus terjaga, selama sang ayah masih memimpin perusahaan. Namun jika si anak tersebut akhirnya menerima estafet kepemimpinan, maka kehancuran perusahaan tinggal soal waktu.

Bayangkan kalau kisah tersebut terjadi di kepemimpinan nasional. Membiarkan seorang anak tidak berpengalaman yang namanya menjadi besar karena pengaruh ayahnya memegang jabatan puncak pemerintahan tentu tidak boleh terjadi.

Orang-orang yang bakal menjadi pemimpin tertinggi idealnya harus sudah matang. Menjalani proses panjang sehingga mental, manajemen hingga jiwa kepemimpinannya sudah teruji. Nasib dan hajat hidup ratusan juta rakyat tidak boleh untuk coba-coba.

Ganjar Pranowo dan Mahfud MD adalah contoh ideal bagaimana sosok pemimpin matang yang merintis karir dari bawah. Lahir ditengah keluarga biasa, mereka berdua benar-benar merangakak dari bawah.

Ganjar sudah terjun politik praktis sejak mahasiswa. Tahap demi tahap dalam berpolitik dilaluinya bersama PDI, kemudian berubah menjadi PDIP. Tiket ke Senayan baru diperolehnya setelah 8 tahun berprores di partai. Sembilan tahun duduk di parlemen, pria berambut putih ini baru mendapat rekomendasi dari partainya untuk maju di Pilgub Jawa Tengah.

Begitu juga dengan Mahfud. Perjalanan karir politiknya juga sangat panjang. Saat masih kuliah, dirinya aktif di organisasi pergerakan mahasiswa. Kematangan dalam berorganisasi membuatnya jadi teknokrat handal ketika lulus. Bisa dibilang, Mahfud memiliki pengalaman komplit di kepemimpinan nasional. Jabatan eksekutif, legislatif hingga yudikatif pernah dan sedang di dudukinya.

Proses tidak pernah mengkhianati hasil. Hal itu terbukti pada Ganjar dan Mahfud.

Lihatlah bagaimana kualitas kepemimpinan yang ditunjukkan Ganjar di Jateng. Mulai dari reformasi birokrasi, penurunan angka kemiskinan, terobosan dunia pendidikan hingga pertumbuhan UMKM yang tinggi terjadi pada masa jabatan gubernurnya.

Atau betapa berwibawanya Makhamah Konstitusi (MK) saat dipimpin oleh Mahfud. Ketegasan dan integritas yang kuat berkat tempaan proses panjang menjadikan Mahfud sebagai Ketua MK terbaik sepanjang sejarah.

Maka, sebelum tiba hari pencoblosan 14 Februari 2024 mendatang, ada baiknya kita merenungkan sebuah pepatah lama yang akan selalu relevan sampai akhir zaman.

ZAMAN BERAT MELAHIRKAN PEMIMPIN KUAT

MANUSIA KUAT, LAHIRKAN ZAMAN YANG JAYA

ZAMAN JAYA LAHIRKAN MANUSIA LEMAH

MANUSIA LEMAH, LAHIRKAN ZAMAN BERAT.

Recent PostView All

Follow Us

Recent Post

Adblock Detected

Please support us by disabling your AdBlocker extension from your browsers for our website.