Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un menyatakan dukungan penuh terhadap Rusia dalam perang di Ukraina. Dukungan ini ditegaskan saat Kim bertemu dengan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov di Wonsan, Sabtu (12/7).
“Kim Jong-un menegaskan kembali bahwa DPRK (Republik Rakyat Demokratik Korea) siap mendukung dan mendorong tanpa syarat semua langkah yang diambil oleh kepemimpinan Rusia terkait penanggulangan krisis Ukraina,” kata media lokal KCNA dikutip Reuters, Minggu (13/7).
Pertemuan itu berlangsung dalam suasana penuh kehangatan dan kepercayaan antar-sahabat seperjuangan. Kim menyampaikan Korea Utara siap mendukung dan mendorong tanpa syarat semua langkah yang diambil Rusia dalam menangani apa yang mereka sebut sebagai akar penyebab krisis Ukraina.”
Lebih lanjut, Kim menyatakan keyakinannya bahwa rakyat dan militer Rusia akan “meraih kemenangan dalam perjuangan suci mempertahankan martabat dan kepentingan dasar negara mereka.” Ia juga memuji “kepemimpinan luar biasa” Presiden Vladimir Putin.
Selain membahas dukungan terhadap agresi Rusia, Kim dan Lavrov juga mendiskusikan kerja sama militer dan politik kedua negara yang terus meningkat sejak pecahnya perang Rusia-Ukraina pada Februari 2022. Pyongyang dilaporkan telah mengerahkan lebih dari 10.000 tentara dan senjata ke Rusia untuk mendukung kampanye militer Moskow.
Kim pun berjanji mengirim sekitar 6.000 insinyur militer dan arsitek untuk membantu pekerjaan rekonstruksi di wilayah Kursk, Rusia.
Dalam pertemuan terpisah pada hari yang sama, Lavrov juga bertemu dengan Menlu Korea Utara Choe Son Hui. Ia mengucapkan terima kasih atas kontribusi para tentara Korea Utara yang disebutnya sebagai “heroik”, menurut kantor berita TASS.
Lavrov menuturkan, hubungan Korut dan Rusia seperti sahabat tempur yang tidak terkalahkan. Ia mengapresiasi dukungan yang diberikan Kim untuk Rusia.
Pertemuan ini juga membahas tindak lanjut atas berbagai kesepakatan yang dicapai dalam KTT Rusia-Korea Utara pada Juni 2024, termasuk perjanjian militer dengan klausul pertahanan bersama yang diteken tahun lalu ketika Putin melakukan kunjungan langka ke Pyongyang.
Dalam pernyataan bersama, kedua negara menegaskan tekad mereka untuk “melawan aspirasi hegemonik dari kekuatan luar kawasan” yang dianggap memperkeruh ketegangan di Asia Timur Laut dan kawasan Asia-Pasifik secara keseluruhan.
Sebagai bagian dari penguatan hubungan, Rusia mengumumkan pembukaan penerbangan dua kali seminggu antara Moskow dan Pyongyang. Lavrov bahkan sempat memuji Wonsan sebagai “tujuan wisata yang menarik,” dan berharap tempat itu akan “populer, bukan hanya bagi warga lokal tetapi juga wisatawan dari Rusia.”