MELIHAT INDONESIA, RIAU – Di tengah gemuruh zaman modern, tarian tradisional sering kali memudar, terpinggirkan oleh budaya pop yang mendominasi. Salah satu yang hampir terlupakan adalah Tari Merawai, sebuah seni khas suku laut di Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau. Tarian ini menggambarkan kehidupan para nelayan yang erat kaitannya dengan alat tangkap tradisional, rawai—tali panjang dengan beberapa kail untuk menangkap ikan. Namun, di balik keindahannya, Tari Merawai kini nyaris punah. Generasi muda yang semakin jauh dari akar tradisional, serta minimnya perhatian terhadap keberlanjutan seni budaya, membuat tarian ini jarang ditampilkan.
Komunitas Orang Laut di Lingga dikenal hidup di atas perahu kecil, berpindah-pindah tempat, dan dulunya mempraktikkan kepercayaan animisme. Kini, sebagian besar telah menetap dan memeluk agama. Meski begitu, kesederhanaan masih menjadi ciri khas mereka. Hidup di atas sampan yang hanya dilindungi kajang, mereka mencari nafkah dengan alat tradisional seperti tombak, serampang, atau tempuling.
Orang Laut memiliki sejarah panjang. Diperkirakan mereka adalah keturunan Proto Melayu yang tiba sekitar 2500–1500 SM dan menyebar melalui Semenanjung Malaka ke Sumatra. Kelompok ini terdesak oleh migrasi besar Deutro Melayu sekitar 1500 SM. Sejak itu, mereka menetap di pesisir, mengukir sejarah yang tercatat dalam berbagai periode, termasuk masa Kesultanan Riau-Lingga hingga era Republik Indonesia. Bahkan, ada pendapat menarik dari Vivienne Wee (1993) yang menyebutkan bahwa Orang Laut adalah keturunan raja-raja Melayu, berdasarkan analisis pada naskah Sulalatus Salatin. Klaim ini semakin menguatkan nilai budaya yang melekat pada Tari Merawai.
Tari Merawai tidak hanya sekadar tarian; ia adalah cerita kehidupan. Para penari menirukan aktivitas sehari-hari Orang Laut dalam mencari ikan di atas sampan. Ada penari yang menjadi si tukang rawai, si tukang timba, si tukang dayung, hingga si tukang kemudi. Mereka menari sambil berbaris dan berkeliling, menirukan gerakan melempar pancing, mendayung, hingga menimba air. Tarian ini diiringi musik tradisional berupa gong dan gendang panjang, serta lagu sederhana dengan bait yang mudah diingat:
Ada satu si tukang rawai
Ada satu si tukang timba
Ada satu si tukang dayung
Ada satu si tukang kemudi
Sebagai penutup, sering ditambahkan bait tambahan:
Keliut keladi, kalau kurang tambah lagi,
yang menjadi pengiring saat penari meminta saweran dari penonton.
Terdapat dua versi tentang asal-usul Tari Merawai. Versi pertama menyebut tarian ini berasal dari Pulau Lipan, Desa Penuba, Kecamatan Selayar, Kabupaten Lingga. Versi kedua menganggapnya sebagai milik masyarakat pesisir secara umum, meskipun hanya Orang Laut di Pulau Lipan yang mengenalnya secara akrab. Ketidakpastian ini justru menunjukkan bagaimana Tari Merawai adalah bagian integral dari identitas budaya yang lebih luas, mencerminkan kehidupan komunitas maritim yang telah berlangsung berabad-abad.
Meski nyaris hilang, Tari Merawai masih memiliki harapan untuk tetap hidup. Dengan perhatian lebih dari berbagai pihak—mulai dari pemerintah daerah hingga komunitas budaya—tarian ini bisa dilestarikan dan dikenalkan kepada generasi muda. Pelestarian ini tidak hanya menjaga Tari Merawai dari kepunahan, tetapi juga menghidupkan kembali cerita dan kearifan lokal Orang Laut. Seperti halnya bait terakhir dari lagu pengiring tarian: Kalau kurang, tambah lagi. Semoga semangat ini mengilhami upaya melestarikan kekayaan budaya Nusantara. (**)