Senin, Oktober 12, 2026

Rapor Merah Kabinet Prabowo-Gibran: Bahlil, Pigai dan Raja Juli Puncaki Daftar Menteri Terburuk Versi CELIOS!

JAKARTA — Memasuki dua tahun masa kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, kinerja sejumlah menteri mendapat sorotan tajam. 

Center of Economic and Law Studies (CELIOS) bersama Kabinet Bayangan baru saja merilis hasil evaluasi kabinet, di mana Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dan Menteri HAM Natalius Pigai menempati urutan teratas sebagai menteri dengan kinerja terburuk.

Selain kedua nama tersebut, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni turut masuk dalam jajaran rapor merah. Peneliti CELIOS, Bhima Yudhistira, menyebut masuknya nama Raja Juli sangat erat kaitannya dengan masalah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang tak kunjung usai.

“Untuk yang menteri yang terburuk nomor satu ini sepertinya masih sama seperti tahun lalu. Ada Bahlil, Pigai, kemudian Raja Juli Antoni ini sepertinya terkait dengan masalah karhutla,” papar Bhima dalam rilis resminya, Minggu (11/10/2026).

Daftar menteri berkinerja buruk ini rupanya cukup panjang. Sejumlah nama elite turut terseret, mulai dari Kepala Badan Gizi Nasional Sudaryono, Menko Pangan Zulkifli Hasan, Menteri ATR Nusron Wahid, hingga Menko PMK Pratikno. 

Bahkan, Mensos Saifullah Yusuf (Gus Ipul), Menko Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar (Cak Imin), dan Menteri Kebudayaan Fadli Zon juga tak luput dari penilaian jeblok ini.

Berbanding terbalik dengan daftar tersebut, sejumlah menteri justru bersinar dengan kinerja yang dinilai memuaskan. Mantan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa berhasil menyabet posisi pertama sebagai menteri terbaik, disusul oleh Mentan Andi Amran Sulaiman dan Menko Infrastruktur Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

Peneliti CELIOS Isnawati Hidayah menegaskan bahwa penilaian ini tidak dilakukan sembarangan. Survei ini melibatkan 129 pakar (snowball sampling) dan 1.142 responden masyarakat umum dari seluruh provinsi di Indonesia. 

Pengukurannya menggunakan pendekatan positional scoring yang diadaptasi dari teori Borda count, sehingga peringkat menteri tidak hanya dinilai dari jumlah suara terbanyak, melainkan juga posisi peringkat yang diberikan oleh responden.

Recent PostView All

Follow Us

Recent Post

Adblock Detected

Please support us by disabling your AdBlocker extension from your browsers for our website.