MELIHAT INDONESIA – Idul Adha merupakan perayaan penting dalam Islam yang melibatkan penyembelihan hewan kurban seperti sapi, kambing, atau domba.
Sering kali terjadi insiden di mana sapi atau hewan lain menjadi liar atau “ngamuk” sesaat sebelum disembelih.
Usai Idul Adha, fenomena sapi ngamuk sering kali menjadi pemandangan yang menarik perhatian banyak orang.
Bagi sebagian masyarakat, insiden sapi yang berontak dan lari liar sebelum disembelih atau sesudahnya dapat dianggap sebagai hiburan segar.
Suasana yang penuh ketegangan berubah menjadi tontonan yang mengundang tawa dan canda di tengah masyarakat. Mereka yang menyaksikan kerap kali merekam kejadian ini dan membagikannya di media sosial, menjadikannya viral dan menambah kesan unik pada perayaan Idul Adha.
Namun, di balik hiburan tersebut, ada aspek yang perlu diperhatikan terkait kesejahteraan hewan dan keselamatan manusia.
Sapi yang ngamuk dapat menimbulkan risiko cedera serius baik bagi orang-orang di sekitarnya maupun hewan itu sendiri.
Penanganan hewan yang tidak tepat tidak hanya berbahaya, tetapi juga bertentangan dengan prinsip-prinsip kesejahteraan hewan.
Oleh karena itu, penting untuk memahami dan mengimplementasikan cara-cara yang lebih manusiawi dalam menangani hewan kurban, mengurangi stres, dan mencegah insiden yang tidak diinginkan.
Langkah-langkah yang dapat diambil termasuk menyiapkan lingkungan yang tenang untuk penyembelihan, melatih petugas agar dapat menangani hewan dengan lembut, dan mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya perlakuan baik terhadap hewan.
Dengan cara ini, diharapkan kejadian sapi ngamuk dapat dikurangi, sehingga tidak hanya mengutamakan aspek hiburan, tetapi juga meningkatkan kesadaran akan pentingnya kesejahteraan hewan dan keselamatan bersama.
Mengutip rri.co.id, berita sapi kurban yang lepas dan ngamuk berseliweran di media. Ada banyak faktor penyebab sapi menjadi marah dan stres, terutama ketidaknyamanan perlakuan (handling) saat perjalanan dan kondisi lingkungan yang tidak baik.
Stres pada sapi berpotensi membahayakan penyembelih, mulai dari terkena tendangan sapi, tersayat pisau, hingga diseruduk saat sapi terlepas.
Selain itu, menurut agproud.com, stres mempengaruhi karkas dan kualitas daging. Jika seekor hewan mengalami stres sebelum atau selama penyembelihan, konversi glikogen menjadi asam laktat akan berubah, dan kualitas daging akan terpengaruh.
Otot hewan memperoleh energi untuk aktivitas dari glikogen. Stres dapat mengurangi kadar glikogen dan asam laktat, sehingga karkas dan daging menjadi keras (rigor mortis).
Asam laktat penting untuk menghasilkan daging yang empuk, gurih, memperlihatkan warna yang menarik secara visual dan tidak rusak.
Kondisi stres pada sapi juga bisa meningkatkan glikogen sehingga terjadi penumpukan asam laktat. Akibatnya, tingkat keasaman (pH) daging jauh lebih rendah dibandingkan otot hewan yang tidak terkena stres. PH yang lebih rendah menyebabkan daging menjadi pucat, kering setelah dimasak, dan memiliki rasa yang tidak enak. (**)