Wajah Agusthinus Nitbani kini dipenuhi kerutan. Rambutnya mulai memutih setelah lebih dari dua dekade mengabdikan hidup sebagai guru honorer di SD Negeri Batu Lesa, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur. Setiap pagi ia menempuh perjalanan menuju sekolah dengan sepeda motor tua yang sudah termakan usia. Kendaraan sederhana itu menjadi saksi perjalanan panjang seorang guru yang tak pernah lelah mendidik anak-anak, meski honor yang diterimanya hanya sekitar Rp223 ribu per bulan.
Selama 23 tahun mengajar, Agusthinus dikenal sebagai sosok guru yang disiplin dan penuh dedikasi. Di ruang kelas yang sederhana, ia tak hanya mengajarkan membaca, menulis, dan berhitung, tetapi juga menanamkan nilai-nilai tanggung jawab dan karakter kepada murid-muridnya. Keterbatasan ekonomi tak pernah mengurangi semangatnya untuk tetap hadir dan mengajar setiap hari.
Kisah Agusthinus menjadi potret ironi dunia pendidikan Indonesia. Di saat pemerintah menggelontorkan anggaran besar untuk berbagai program strategis, termasuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG), masih ada guru di pelosok negeri yang bertahan puluhan tahun dengan penghasilan yang bahkan belum cukup memenuhi kebutuhan hidup dasar selama sebulan.
Perbandingan tersebut bukan untuk mempertentangkan pentingnya pemenuhan gizi anak dengan kesejahteraan guru. Keduanya merupakan fondasi pembangunan sumber daya manusia. Namun kondisi yang dialami Agusthinus memunculkan pertanyaan: apakah peningkatan kualitas pendidikan dapat berjalan optimal jika kesejahteraan para pendidik di garis depan masih tertinggal?
Di balik segala keterbatasan itu, Agusthinus Nitbani tetap memilih mengajar. Pengabdiannya menjadi pengingat bahwa kemajuan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh besarnya anggaran, tetapi juga oleh sejauh mana negara memberi penghargaan yang layak kepada mereka yang setiap hari mencerdaskan generasi penerus bangsa.