Setelah hampir sebulan tutup akibat kontroversi label halal, rumah makan Ayam Goreng Widuran di Solo kembali buka pada Jumat (20/6).
Spanduk besar bertuliskan “nonhalal” kini terpasang jelas di bagian depan restoran, menggantikan spanduk lama yang menuai polemik.
Label yang sama juga tampak pada kemasan dan etalase, sebagai bagian dari perbaikan yang dilakukan pihak pengelola sesuai arahan pemerintah kota.
Penutupan sebelumnya dilakukan oleh Wali Kota Solo, Respati Ahmad Ardianto, usai ramai isu penggunaan minyak babi dalam pembuatan kremes, yang bertentangan dengan klaim halal yang sempat tertera.
Saat itu, Wali Kota meminta pihak rumah makan untuk menghentikan operasional sementara agar dilakukan asesmen ulang, sembari menawarkan agar mereka mengajukan sertifikasi halal bila memang mengklaim demikian. Jika tidak, maka disarankan menyatakan secara terbuka bahwa produknya nonhalal.
Kini setelah kembali beroperasi, antusiasme pelanggan mulai terlihat. Beberapa warga Solo, termasuk pelanggan lama, langsung datang untuk makan di tempat maupun membawa pulang.
Astrika, warga Jebres, menjadi salah satu di antaranya. Ia mengaku sudah lima tahun menjadi pelanggan dan tidak terpengaruh dengan isu yang sempat mencuat, karena ia bukan seorang muslim dan sudah mengenal rasa serta kualitas ayam goreng Widuran sejak lama.
Perwakilan pemilik usaha, Victor, menjelaskan bahwa semua perbaikan telah dilakukan sesuai arahan pemkot agar tidak menimbulkan kesalahpahaman publik.
Ia menegaskan bahwa sejak awal rumah makan yang berdiri sejak tahun 1973 itu tidak pernah mendaftarkan produknya sebagai halal, dan tidak pernah mengklaim sebaliknya.
Seluruh staf pun kini diinstruksikan untuk menjelaskan dengan jujur kepada pembeli yang bertanya soal status makanan yang disajikan.