Senin, Mei 25, 2026

Tangis Megawati Pecah Usai Nonton Pesta Babi, Singgung Kerusakan Lingkungan

Isu kerusakan lingkungan dan nasib masyarakat adat kembali menjadi sorotan setelah Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Megawati Soekarnoputri mengaku tersentuh saat menonton film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita.

Pengakuan itu disampaikan Megawati dalam forum National Policy Dialogue di Balai Senat Universitas Gadjah Mada, Jumat (22/5/2026).

Dalam kesempatan itu, Megawati menyoroti kerusakan lingkungan akibat eksploitasi sumber daya alam yang dinilai mengabaikan hak masyarakat adat dan keberlanjutan lingkungan.

“Saya kemarin menangis ketika melihat film Pesta Babi. Itu benar adanya. Sudah seberapa banyak hutan hanya dijadikan tanaman sawit, untuk apa? Di sana ada tradisi adat, ada hukum adat, ada hukum wilayah. Mereka minta dihargai, apakah salah?,” tutur Megawati.

Menurutnya, pembangunan nasional harus tetap berorientasi pada keberlanjutan dan memiliki arah jangka panjang yang jelas.

“Kalau presidennya berganti, jangan sampai arah pembangunannya ikut berubah semua. Kita harus punya pola pembangunan jangka panjang untuk masa depan bangsa,” ujarnya.

Film dokumenter Pesta Babi karya Dandy Dwi Laksono dan Cypri Jehan Paju Dale mengangkat dampak ekspansi lahan dan industri terhadap masyarakat adat di Papua.

Film tersebut juga sempat menuai polemik setelah sejumlah agenda pemutaran dan diskusi dilaporkan mengalami intimidasi hingga pembubaran.

Sementara itu, Ketua DPR Puan Maharani menyebut polemik nobar film itu berkaitan dengan muatan konten yang dianggap sensitif.

“Terkait dengan nobar yang sekarang sedang menjadi pembicaraan, memang yang saya dengar bahwa isi atau judul dari film tersebut tentu saja sensitif,” ujar Puan.

Polemik film tersebut kini ikut memicu perdebatan publik soal lingkungan, masyarakat adat, dan kebebasan berekspresi.

Tangis Megawati Pecah Usai Nonton Pesta Babi, Singgung Kerusakan Lingkungan

Isu kerusakan lingkungan dan nasib masyarakat adat kembali menjadi sorotan setelah Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Megawati Soekarnoputri mengaku tersentuh saat menonton film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita.

Pengakuan itu disampaikan Megawati dalam forum National Policy Dialogue di Balai Senat Universitas Gadjah Mada, Jumat (22/5/2026).

Dalam kesempatan itu, Megawati menyoroti kerusakan lingkungan akibat eksploitasi sumber daya alam yang dinilai mengabaikan hak masyarakat adat dan keberlanjutan lingkungan.

“Saya kemarin menangis ketika melihat film Pesta Babi. Itu benar adanya. Sudah seberapa banyak hutan hanya dijadikan tanaman sawit, untuk apa? Di sana ada tradisi adat, ada hukum adat, ada hukum wilayah. Mereka minta dihargai, apakah salah?,” tutur Megawati.

Menurutnya, pembangunan nasional harus tetap berorientasi pada keberlanjutan dan memiliki arah jangka panjang yang jelas.

“Kalau presidennya berganti, jangan sampai arah pembangunannya ikut berubah semua. Kita harus punya pola pembangunan jangka panjang untuk masa depan bangsa,” ujarnya.

Film dokumenter Pesta Babi karya Dandy Dwi Laksono dan Cypri Jehan Paju Dale mengangkat dampak ekspansi lahan dan industri terhadap masyarakat adat di Papua.

Film tersebut juga sempat menuai polemik setelah sejumlah agenda pemutaran dan diskusi dilaporkan mengalami intimidasi hingga pembubaran.

Sementara itu, Ketua DPR Puan Maharani menyebut polemik nobar film itu berkaitan dengan muatan konten yang dianggap sensitif.

“Terkait dengan nobar yang sekarang sedang menjadi pembicaraan, memang yang saya dengar bahwa isi atau judul dari film tersebut tentu saja sensitif,” ujar Puan.

Polemik film tersebut kini ikut memicu perdebatan publik soal lingkungan, masyarakat adat, dan kebebasan berekspresi.

Recent PostView All

Follow Us

Recent Post

Adblock Detected

Please support us by disabling your AdBlocker extension from your browsers for our website.