JAKARTA – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) ternyata belum menjangkau sekitar 240 ribu satuan pendidikan di Indonesia. Badan Gizi Nasional (BGN) menyebut banyak sekolah yang mengajukan permohonan agar bisa menjadi penerima manfaat.
Kepala BGN Sudaryono mengatakan setiap permohonan tidak otomatis langsung disetujui. BGN akan melakukan investigasi sebelum menentukan sekolah yang dapat menerima program tersebut.
“Kami menerima banyak sekali surat permohonan dari sekolah-sekolah yang belum mendapatkan MBG sampai dengan saat ini dan itu akan kami investigasi untuk kemudian kami layani program MBG itu secara bertahap sesuai dengan tahapan-tahapan yang kami punyai,” kata Sudaryono, Jumat (11/9/2026).
Pemerintah akan mengutamakan satuan pendidikan di wilayah 3T (terdepan, terluar, dan tertinggal) serta daerah dengan angka stunting tinggi.
“Prioritas kami tentu saja adalah sekolah-sekolah atau satuan pendidikan yang berada di wilayah 3T, terdepan, terluar dan tertinggal serta wilayah-wilayah lain yang angka stuntingnya tinggi dan tinggi sekali,” ujarnya.
Dari lebih dari 580 ribu satuan pendidikan yang tercatat, sekitar 340 ribu telah menerima MBG. Artinya, masih ada sekitar 240 ribu sekolah, madrasah, pondok pesantren, hingga satuan pendidikan keagamaan yang belum terjangkau.
Di sisi lain, BGN sebelumnya mengeluarkan 1.653 sekolah dari daftar penerima karena dinilai tidak tepat sasaran.
Mayoritas merupakan sekolah swasta bertaraf internasional, sekolah yang bekerja sama dengan institusi nasional maupun internasional, serta satuan pendidikan yang secara finansial tidak bergantung pada dana BOS.
BGN kini meminta Kemendikdasmen dan Kementerian Agama memperbarui data satuan pendidikan agar perluasan MBG benar-benar menyasar sekolah yang paling membutuhkan.