TANGERANG SELATAN – Nasib nahas menimpa Dayat, seorang pedagang sate Padang di kawasan Bintaro, Pondok Aren, Tangerang Selatan. Lelah terus-menerus menjadi korban pemalakan preman, ia terpaksa memindahkan lapaknya dari kawasan depan RS Premier Bintaro ke Sektor 9.
Kasus ini mencuat dan viral setelah akun Threads @bagus.abdi.sukma mengunggah video pengakuan Dayat pada Jumat (25/9/2026). Dalam utas tersebut, sang pedagang dinarasikan menjadi korban pemerasan hingga mencapai angka Rp200 juta. Tak hanya itu, pengunggah juga menyebut Dayat sempat dikalungi celurit karena enggan memberikan uang jatah preman.
Merespons kehebohan di media sosial, jajaran Unit Reskrim dan Intel Polsek Pondok Aren langsung turun tangan mendatangi kediaman korban. Kapolsek Pondok Aren, Kompol Anne Rose Agrippina Putri, membenarkan adanya tindak pidana pemerasan yang menimpa pedagang sate tersebut dan mengaku telah mengantongi sejumlah bukti awal.
“Dapat dibenarkan bahwa ia mengalami pemalakan atau pemerasan. Untuk nominal berapa yang sudah dikeluarkan dari penjual sate, masih kami dalami,” ujar Anne di Mapolsek Pondok Aren, Rabu (30/9/2026).
Meski demikian, Anne meluruskan narasi liar terkait penodongan senjata tajam. Berdasarkan pemeriksaan awal, ia menegaskan bahwa celurit tersebut memang ada di sekitar lokasi, namun tidak pernah dikalungkan atau ditodongkan langsung kepada korban seperti yang viral diperbincangkan.
Hingga saat ini, Dayat yang masih enggan memberikan keterangan kepada awak media belum membuat Laporan Polisi (LP) secara resmi. Pihak kepolisian telah mendorong korban untuk segera melapor agar pelaku bisa ditindak, namun yang bersangkutan masih menunda langkah tersebut karena harus berembuk dengan pihak keluarga.