JAKARTA – Perombakan atau reshuffle Kabinet Merah Putih yang dilakukan oleh Presiden Prabowo Subianto dinilai perlu dilihat dari kacamata yang lebih luas, bukan sekadar menyoroti siapa saja pejabat yang diganti atau kehilangan jabatan.
Pengamat politik dari Aljabar Strategic, Arifki Chaniago, mengingatkan publik agar perombakan kabinet tersebut tidak langsung dimaknai sebagai langkah politik untuk menyingkirkan seluruh figur yang memiliki keterkaitan dengan pemerintahan Presiden Joko Widodo sebelumnya.
Menurut Arifki, asumsi tersebut keliru karena fakta di lapangan menunjukkan bahwa tidak semua loyalis atau pejabat era Jokowi tersingkir dari lingkaran pemerintahan Prabowo. Beberapa di antaranya bahkan mendapat posisi yang strategis.
“Saya kira kita juga jangan buru-buru menyimpulkan bahwa ini adalah upaya ‘membersihkan orang Jokowi’. Karena secara faktual, tidak semua figur yang dikaitkan dengan pemerintahan sebelumnya otomatis kehilangan posisi. Bahkan Pak Listyo misalnya, masih mendapat posisi baru sebagai Kepala Staf Kepresidenan,” kata Arifki.
Pernyataan ini sekaligus merespons dinamika dan spekulasi politik yang berkembang di masyarakat terkait arah kebijakan Presiden Prabowo Subianto dalam menyusun ulang formasi Kabinet Merah Putih.