Indonesia kembali menambah daftar modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista). Pemerintah dikabarkan memesan 12 pesawat tempur ringan M-346 F “Block 20” buatan perusahaan dirgantara Italia, Leonardo, yang diproyeksikan memperkuat kemampuan tempur sekaligus pelatihan pilot TNI Angkatan Udara (AU).
Kabar tersebut diumumkan Leonardo bersama mitra lokalnya, PT ESystem Solutions Indonesia. Dalam keterangannya, pesawat M-346 akan memiliki peran ganda sebagai pesawat tempur multi-peran sekaligus pesawat latih lanjutan bagi calon pilot pesawat tempur. Pengiriman unit pertama dijadwalkan mulai dilakukan pada 2030.
Meski nilai kontrak tidak diumumkan secara resmi, sejumlah media Eropa memperkirakan harga 12 unit M-346 berada di kisaran 1,5 miliar euro atau sekitar Rp30 triliun, mengacu pada kontrak pembelian Austria dengan jumlah pesawat yang sama pada 2025.
M-346 bukan sekadar pesawat latih. Varian M-346FA telah dikembangkan sebagai pesawat serang ringan yang mampu membawa rudal udara-ke-udara, amunisi berpemandu presisi, hingga berbagai sistem persenjataan modern.
Pesawat bermesin ganda ini juga dilengkapi kokpit digital dan avionik canggih dengan kecepatan mendekati Mach 0,95.
Sejumlah negara seperti Italia, Israel, Singapura, Polandia, dan Qatar telah lebih dahulu mengoperasikan M-346 untuk melatih pilot pesawat tempur generasi modern. Dengan kontrak terbaru tersebut, Indonesia diperkirakan menjadi negara ke-23 yang menggunakan platform M-346.
Selain pengadaan pesawat tempur, Indonesia juga menandatangani letter of intent untuk rencana pembelian helikopter multiguna AW149 buatan Leonardo bagi TNI Angkatan Laut. Helikopter tersebut dirancang untuk mendukung operasi pencarian dan penyelamatan (SAR) serta berbagai misi perlindungan sipil.
Pengadaan M-346 dan rencana pembelian AW149 melanjutkan program modernisasi alutsista yang dijalankan pemerintah dalam beberapa tahun terakhir.
Sebelumnya, Indonesia juga menandatangani kontrak pembelian 42 jet tempur Rafale dari Prancis senilai sekitar 8,1 miliar dolar AS atau sekitar Rp144 triliun guna memperkuat kemampuan pertahanan nasional. Pembaruan Alutsista ini menjadi sorotan publik, di tengah efisiensi tidak semestinya pemerintah mengucurkan dana besar untuk hal yang belum perlu dipakai dalam waktu dekat.