Selasa, Juni 9, 2026

Ganjar Dibenci Elite, Disayang Wong Alit

OPINI – Fenomena tingginya elektabilitas Ganjar Pranowo menjadi sebuah antitesis tentang bagaimana nama besar sebuah trah atau tokoh politik adalah jaminan untuk memiliki elektabilitas, bahkan menentukan pilihan rakyat.

Ganjar yang kesehariannya banyak memberikan waktunya untuk bekerja memikirkan rakyat ini, memiliki slogan yang menurut saya juga merupakan nilai-nilai yang dihidupinya yakni: “Tuanku ya rakyat, Gubernur cuma mandat.” Slogan yang selalu dipegang teguh Ganjar dan sangat berbanding lurus dengan sikap dan perilaku Ganjar selama ini.

Maka tidak heran ketika banyak orang-orang elite (partai maupun legislatif) cenderung membenci Ganjar. Paling tidak bisa dilihat dari pengakuan Ganjar sendiri di acara Rosianna Silalahi bagaimana setelah menjabat sebagai Gubernur, banyak proposal masuk yang abal-abal dan tidak masuk akal semua ditolak.

Tetapi orang-orang kecil (kawula alit) sangat mengidolakan, bahkan menyayangi Ganjar yang terlahir dari keluarga yang sangat sederhana. Setiap kali turun di tengah-tengah warga, mereka selalu antusias, terakhir bahkan ada yang ingin memeluk Ganjar ketika sedang meninjau lokasi karantina Covid-19 di beberapa kabupaten/kota di Jawa Tengah.

Betapa tidak, ketika 2016 lalu diundang oleh Rosi, Ganjar menceritakan bahwa dirinya sudah biasa dibenci elite karena menjaga anggaran supaya tidak di salah gunakan, dicuri secara halus karena memasukkan proposal-proposal “bodong” yang tidak masuk akal, mengada-ada, bahkan yang “blong”.

Sekalipun harus dibully dan disudutkan karena anggaran seperti tidak terserap maksimal, Ganjar berkata “Daripada dikorupsi, mendingan saya kembalikan pada negara,” tiba-tiba seperti teringat sosok Ahok yang juga diperlakukan sama sewaktu melindungi uang rakyat di Jakarta.

Jelas, orang-orang seperti Ahok, Jokowi, dan Ganjar ini adalah orang-orang yang mengganggu banyak kepentingan “elite,” membuat para “pencuri” anggaran ini “puasa” bertahun-tahun lamanya, itu kenapa “layak” untuk dibenci dan disudutkan, diserang habis-habisan secara membabi buta.

Berbanding terbalik ketika kawula alit, orang-orang di jalan, orang-orang yang mau bekerja jujur tapi sering dipalak, sering dipersulit (banyak contohnya). Bagi orang-orang ini, bertemu Ganjar seperti mendapat oase di padang gurun.
Masih ada harapan untuk bangsa ini, masih ada orang bersih dan jujur, yang layak untuk dibela, dikawal, dipertahankan, dan dikasihi.

Maju terus pak Ganjar, bangkit dan menjadi teranglah untuk Indonesia!

Salam cinta untuk Bangsa. (PR)

Recent PostView All

Follow Us

Recent Post

Adblock Detected

Please support us by disabling your AdBlocker extension from your browsers for our website.