Pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyinggung istilah “londo ireng” dalam sebuah pidato belakangan ini memicu polemik di ruang publik. Di tengah perdebatan tersebut, muncul kembali pembahasan mengenai salah satu leluhur Prabowo dari garis ibu, Benjamin Thomas Sigar, yang riwayat sejarahnya dikaitkan dengan pasukan bantuan Hindia Belanda pada masa Perang Jawa.
Nama Benjamin Thomas Sigar ramai diperbincangkan setelah sejumlah catatan sejarah menyebut ia merupakan tokoh Minahasa asal Langowan yang ditunjuk sebagai kapiten Pasukan Tulungan (Hulptroepen), yakni pasukan bantuan dari Minahasa yang bertugas membantu pemerintah kolonial Belanda dalam Perang Jawa 1825–1830. Benjamin Thomas Sigar diketahui merupakan leluhur dari pihak ibu Prabowo, Dora Marie Sigar.
Narasi yang berkembang di media sosial kemudian mengaitkan riwayat tersebut dengan istilah “londo ireng”. Namun, para sejarawan mengingatkan bahwa istilah tersebut merupakan sebutan historis yang memiliki konteks tertentu dan tidak dapat secara otomatis dilekatkan kepada keturunannya. Dengan demikian, penyebutan Prabowo sebagai “keturunan buyut londo ireng” merupakan klaim yang masih menjadi perdebatan dan bukan fakta yang telah ditetapkan.
Di tengah berkembangnya berbagai spekulasi, sejumlah pihak meminta Badan Komunikasi Kepresidenan (Bakom) memberikan penjelasan agar informasi yang beredar tidak menimbulkan kesimpangsiuran di masyarakat. Klarifikasi dinilai penting agar publik memperoleh pemahaman yang utuh mengenai konteks sejarah Benjamin Thomas Sigar maupun penggunaan istilah “londo ireng” dalam perdebatan publik.
Hingga berita ini ditulis, Badan Komunikasi Kepresidenan belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait isu yang berkembang tersebut. Karena itu, berbagai klaim yang beredar masih perlu disikapi secara hati-hati dan dibedakan antara fakta sejarah mengenai Benjamin Thomas Sigar dengan penafsiran atau opini yang berkembang di ruang publik.