Minggu, Juli 26, 2026

Main Sunat-sunatan di Kelas, Bocah PAUD Solo Malah Disunat Betulan

Nasib memilukan menimpa seorang murid Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Solo, Jawa Tengah. Bocah berusia sekitar 4–5 tahun itu mengalami luka pada alat kelaminnya setelah bermain sunat-sunatan bersama temannya menggunakan gunting prakarya di kelas, Kamis (11/9/2025).

Kepala Dinas Pendidikan Kota Solo, Dwi Ariyatno, menjelaskan kronologi kejadian berawal dari kegiatan prakarya di sekolah. Awalnya anak-anak melakukan aktivitas potong-tempel kertas dengan pendampingan guru. Namun, saat guru mendampingi murid lain untuk cuci tangan, salah satu siswa mengambil kembali gunting dan melukai alat vital temannya.

“Kejadian informasinya ya itu kejadian harinya itu Kamis. Jadi saya dapat informasinya baru tadi malam. Berawal dari adanya kegiatan sekolah praktek prakarya. Jadi ada kegiatan gunting-menggunting, potong-memotong, nempel-menempel. PAUD A, kira kira ya umur 4-5 tahun,” kata Dwi, Senin (15/9/2025).

Menurut Dwi, aksi tersebut diduga karena anak-anak meniru praktik khitan atau sunatan, meski tanpa memahami risiko.
“Menurut saya, dia mendapatkan informasi terkait dengan praktik khitan itu tidak secara utuh dan dipahami sehingga dia enggak tahu konsep terkait dengan bahwa itu tidak boleh dilakukan sembarangan,” ujarnya.

Dwi menegaskan, tidak ada unsur kesengajaan dalam peristiwa ini.
“Ini teman sekelas. Tidak dalam bentuk kekerasan. Kemungkinan mereka mendapatkan informasi tentang praktik khitan. Mungkin itu sebabnya yang diarahkan ke alat kelamin. Jadi menggunakan gunting seakan-akan berpraktik khitan. Itu persepsi anak-anak,” jelasnya.

Akibat kejadian itu, korban dibawa ke rumah sakit dan akhirnya menjalani khitan sungguhan.
“Sudah pulang dari rumah sakit, kondisinya anaknya sudah sehat secara fisik terus informasi katanya disunat sekalian,” jelas Dwi.

Ia menyebut kondisi korban sudah membaik dan dipulangkan, meski masih perlu pendampingan psikologis.
“Udah pulang. Kalau anaknya korbannya sudah pulang. Cuma mungkin ini masih didampingi dari psikolognya DP3AP2KB. Anak yang korban ini perlu didampingi karena dia yang posisinya rentan terkait dengan traumatik, terutama rasa sakit yang luar biasa itu,” bebernya.

Kasus ini sempat dilaporkan orang tua korban ke beberapa instansi, termasuk Wakil Wali Kota Solo, Astrid Widayanti. Namun, setelah difasilitasi sekolah, kedua pihak sepakat menempuh jalan damai.
“Cuma setelah ini kemarin sudah dipertemukan lewat sekolah dimediasi, termasuk didampingi oleh Dinas tadi kelihatannya menempuh jalan kekeluargaan karena paham bahwa ini kejadian anak dengan anak,” kata Dwi.

Dwi menambahkan, orang tua berperan penting memberi pemahaman kepada anak soal bahaya tindakan berisiko.
“Yang perlu dipahamkan tadi tanggung jawab anak yang menjadi pelaku itu harus tahu harus memahamkan anaknya supaya tidak akan terulang kejadian serupa ke depannya. Apa yang diperbuat oleh anak itu kan jadi tanggung jawab orang tua,” jelasnya.

Atas kejadian ini, Dinas Pendidikan Kota Solo akan melakukan evaluasi pada sekolah, khususnya terkait penyimpanan peralatan berbahaya.

“Evaluasi di sekolah itu adalah kaitannya dengan pengamanan penanganan baik pra-pembelajaran, pembelajaran maupun pascapembelajaran terutama yang menggunakan alat atau peralatan yang punya potensi membahayakan terutama untuk anak-anak usia dini ini tolong untuk lebih cermat lagi untuk bisa memastikan tempat penyimpanannya betul-betul tidak bisa diakses oleh anak-anak yang kemudian nanti berpotensi mencelakai,” pungkasnya.

Recent PostView All

Follow Us

Recent Post

Adblock Detected

Please support us by disabling your AdBlocker extension from your browsers for our website.