Rabu, Mei 27, 2026

Melihat Asal usul Panggilan Gus, Antara Tradisi, Kehormatan, dan Penyalahgunaan

MELIHAT INDONESIA, JAKARTA – Di Indonesia, khususnya di tanah Jawa, panggilan Gus bukanlah hal yang asing. Gelar ini sering digunakan untuk menunjukkan penghormatan, terutama kepada putra kyai, ulama, atau tokoh yang dihormati. Namun, bagaimana sebenarnya asal-usul dan makna dari panggilan ini?

Gus dalam Tradisi Jawa

Menurut Guru Besar Ilmu Sejarah Peradaban Islam UIN Raden Mas Said Surakarta, Syamsul Bakri, istilah Gus berasal dari wilayah Jawa Timur. “Gus awalnya adalah sebutan untuk anak laki-laki kyai di lingkungan pesantren Nahdlatul Ulama (NU). Anak perempuan biasanya dipanggil Ning,” jelas Syamsul.

Awalnya, gelar ini tidak memiliki kaitan langsung dengan keilmuan, tetapi lebih kepada status sosial dalam lingkungan pesantren. Namun, seiring waktu, istilah Gus mulai digunakan lebih luas untuk memanggil tokoh agama atau mubaligh, bahkan merambah ke wilayah Jawa Tengah dan Jawa Barat karena migrasi penganut NU.

Gus dalam Tradisi Keraton

Ada pula versi lain yang mengaitkan gelar Gus dengan tradisi keraton. Menurut sosiolog Universitas Sebelas Maret (UNS), Drajat Tri Kartono, panggilan ini berasal dari kata “Bagus,” yang berarti indah atau mulia.

“Di keraton, panggilan ‘Bagus’ diberikan sebagai bentuk penghormatan kepada mereka yang memiliki kepribadian luhur dan ilmu tinggi. Contohnya adalah Sri Susuhunan Pakubuwono IV yang diberi gelar Sunan Bagus,” ungkap Drajat.

Gelar ini juga digunakan untuk membedakan antara keturunan raja, yang biasa dipanggil Raden Mas, dengan anak kyai yang dipanggil Gus. Hubungan erat antara kyai dan keraton saat itu menciptakan tradisi pemberian gelar ini kepada anak-anak kyai.

Penyalahgunaan Panggilan Gus

Namun, Syamsul Bakri menyayangkan bahwa seiring berjalannya waktu, panggilan Gus mulai disalahgunakan. “Sekarang muncul banyak ‘Gus palsu’ yang menggunakan gelar ini untuk keuntungan pribadi. Bahkan ada dukun yang dipanggil Gus,” kata Syamsul.

Ia menambahkan, fenomena ini terjadi karena masyarakat sering kali tidak memahami asal-usul gelar ini dan memberikannya tanpa mempertimbangkan kapasitas seseorang.

Kriteria yang Layak Dipanggil Gus

Menurut Drajat, gelar Gus idealnya hanya diberikan kepada seseorang yang memiliki kapasitas keilmuan dan integritas yang diakui oleh masyarakat. Selain anak atau menantu kyai, seseorang yang dipanggil Gus harus memiliki karakter yang baik, penguasaan agama, dan kemampuan menjadi rujukan dalam komunitasnya.

“Seorang Gus bukan hanya guru agama, tetapi juga tokoh yang dipercaya sebagai panutan. Panggilan ini memiliki tanggung jawab moral dan sosial yang besar,” jelas Drajat.

Mengapa Panggilan Ini Masih Relevan?

Meski terjadi penyalahgunaan, gelar Gus tetap menjadi simbol penghormatan yang kuat di masyarakat. Gelar ini menunjukkan bagaimana tradisi lokal dapat menciptakan sebuah sistem penghormatan yang khas, meski penggunaannya kini perlu lebih selektif dan sesuai dengan kapasitas seseorang.

Dengan sejarah panjang dan makna yang mendalam, panggilan Gus bukan hanya tentang status, tetapi juga tentang pengakuan terhadap ilmu, akhlak, dan kontribusi seseorang dalam kehidupan masyarakat. (**)

Recent PostView All

Follow Us

Recent Post

Adblock Detected

Please support us by disabling your AdBlocker extension from your browsers for our website.