JAKARTA — Suhu politik di Tanah Air mendadak memanas menjelang sidang putusan Mahkamah Konstitusi (MK) terkait gugatan diskualifikasi Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang dijadwalkan digelar malam ini. Kehadiran Joko Widodo di Jakarta tepat di momen krusial ini sontak memantik kecurigaan tajam, khususnya dari kubu PDI Perjuangan (PDIP).
Politikus PDIP, Mohamad Guntur Romli, secara blak-blakan menyoroti timing kedatangan Jokowi yang dinilainya terlalu kebetulan. Ia mencurigai adanya manuver atau lobi-lobi politik di balik layar.
“Dengan sejarah seperti itu, kehadiran Jokowi di Jakarta tepat menjelang putusan sulit dibaca sebagai kebetulan. Sekadar nonton bola? Atau kasak-kusuk jilid dua? Mau cawe-cawe lagi?” sentil Guntur Romli, Selasa (6/10/2026).
Ia mengingatkan kembali rekam jejak kelam Putusan MK No. 90/2023 yang dinilai sarat cacat etik akibat intervensi Istana hingga berujung pencopotan Anwar Usman dari kursi Ketua MK.
Di sisi lain, Pakar Hukum Tata Negara Denny Indrayana telah memastikan bahwa palu hakim MK akan diketuk pada pukul 20.00 WIB malam ini. Menariknya, Denny mengaitkan putusan ini dengan kemenangan Timnas Indonesia atas Thailand semalam.
“Sang ‘Garuda’ mengalahkan Negeri ‘Gajah’. Apakah tanda-tanda alam itu akan berwujud lagi melalui putusan MK nanti malam? Kita tunggu saja,” cuitnya optimis.
Secara regulasi, jadwal tersebut sejalan dengan Peraturan MK (PMK) Nomor 1 Tahun 2026 yang menetapkan jendela sidang putusan pada 5–6 Oktober. Saat ini, para majelis hakim diketahui tengah menggelar Rapat Permusyawaratan Hakim (RPH) yang sangat tertutup.
Menyadari tingginya tensi perkara ini, Kuasa Hukum Denny Indrayana cs, Refly Harun, melontarkan peringatan keras kepada para hakim konstitusi. Mengingat gugatan ini berada di ranah high politics, ia menuntut majelis hakim untuk berani menunjukkan sikap kenegarawanan dan independensi penuh tanpa tunduk pada tekanan penguasa mana pun.