Minggu, Juli 12, 2026

Sikap Iri Hati akan Membawa pada Kegagalan dan Penolakan

Mimbar Katolik kali ini merupakan buah pikir dan tulis Antonius Sinaga (Pembimbing Masyarakat Katolik Kanwil Kemenag DKI Jakarta) yang dikutip secara utuh dari laman Kementrian Agama RI, kemenag.go.id.

Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus. Mudik ke tempat asal membawa perasaan sukacita. Suka cita itu tidak hanya dialami oleh kita sendiri tetapi juga sanak saudara dan keluarga kita yang tinggal di kampung halaman. Karena itu, tidak heran, setiap tahun banyak orang yang berjuang untuk mudik ke kampung halamannya, walau harus berdesak-desakan dan bermacet ria di jalanan.

Dalam bacaan Injil hari ini (Markus 6:1-6), kita mendengar bahwa Yesus ditemani oleh para murid-Nya, pergi dari Yudea ke Galilea melalui daerah perbukitan dan akhirnya sampai ke Nazaret, tempat asal-Nya (Markus 6:1). Ternyata, orang-orang di Nazaret menolak Dia. Meskipun mereka kagum dengan pengajaran-Nya, tetapi mereka kecewa karena mengenal asal-usul-Nya.

Yesus ditolak oleh orang-orang di Nazaret karena orang Nazaret tidak mengenal Yesus dengan baik dan juga iri terhadap-Nya. Mereka bertanya-tanya dan tidak percaya dengan pengajaran Yesus dan melihat Yesus mampu melakukan semuanya itu padahal Yesus adalah anak tukang kayu. Yang dialami Yesus, mungkin saja ada “iri hati” dari masyarakat di Nazareth yang sebelumnya melihat Yesus seorang biasa sama seperti mereka, seorang tukang kayu dan sekarang mereka saksikan Yesus tiba-tiba menjadi orang hebat.

Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus. Setiap manusia secara naluri selalu berusaha untuk mendapat pengakuan sosial. Sehingga kita akan selalu berusaha untuk melakukan penyesuaian agar bisa diterima secara sosial. Kita juga berusaha keras agar secara sosial kita punya arti dan peranan. Usaha-usaha keras yang berlangsung setiap hari dan seumur hidup itulah membuat kita merasa terpukul dengan penolakan-penolakan.

Di dalam kehidupan bermasyarakat tidak sedikit manusia atau individu yang mengalami penolakan sosial. Tidak semua orang yang berhasil didalam kehidupannya diterima di lingkungan sosialnya dengan mudah; dan tidak semua orang bisa menghadapi penolakan dengan lapang dada dan sikap realistis. Penolakan memang suatu yang terasa amat pahit untuk diterima. Kesadaran bahwa kemampuan diri yang dibanggakan ternyata tidak sebaik sebagaimana orang lain melihatnya. Dua perbedaan persepsi tentang diri inilah barangkali yang membuat terasa menyakitkan jika menghadapi sebuah penolakan.

Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus. Tinggal dan hidup bersama-sama dalam satu lingkungan tidak menjadi jaminan orang akan sangat mengenal satu sama lain secara mendalam. Dan itu telah terjadi di lingkungan kita sendiri, dalam keluarga, atau dalam lingkungan kantor. Kita sudah hidup bersama-sama, tapi kita tak pernah kenal dengan baik siapa orang yang sudah ada bersama-sama dengan kita.

Kedekatan relasi dengan teman-teman di tempat asal dan tempat kerja sering menghalangi sikap hormat. Mereka menilai teman berdasarkan perspektif diri sendiri. Yesus menyadari hal ini sehingga Ia menyatakan, “Seorang nabi dihormati di mana-mana kecuali di tempat asalnya sendiri, di antara kaum keluarganya dan di rumahnya” (Markus 6:4). Padahal, setiap orang memiliki harapan yang tinggi bahwa di tempat ‘asalnya’ mereka dihargai dan diterima.

Penolakan terhadap teman umumnya terjadi karena iri hati. Sikap iri membuat enggan memberi apresiasi. Berulang-kali kitab suci mengisahkan bagaimana iri hati merusak hubungan antarsesama manusia. Iri hati adalah salah satu penyakit rohani tertua di mana Kain iri hati kepada Habel, adiknya, sehingga Kain membunuh Habel (lih. Kejadian 4:1-16). Yusuf dibenci oleh saudara-saudaranya sebab ayah mereka yakni Yakub, lebih mengasihi Yusuf (Kejadian 37:1-11).

Sumber utama yang membuat iri hati misalnya: Pertama, kemampuan orang lain ternyata melebihi dari kemampuan yang dimilikinya. Ia tidak mau menerima kenyataan padahal seharusnya ia lebih giat lagi meningkatkan kemampuannya. Kedua, orang lain lebih terkenal daripada dirinya padahal orang tersebut masih “junior” sedangkan ia sudah “senior” dan merasa orang lain tidak pantas selain dirinya. Ketiga, ia tidak suka melihat orang lain sukses padahal ia sendiri sudah sukses, artinya ia cenderung ingin menguasi semuanya, tidak rela berbagi kesuksesan dengan orang lain.

Apakah sikap iri mendorong mencapai keberhasilan? Tidak. Sikap iri hati justru membawa kepada kegagalan dan penolakan. Sebaliknya, saat kita tulus memberi apresiasi, kita akan menghidupi persahabatan yang sejati. Para sahabat akan selalu mengingat dan merindukan perjumpaan dengan kita, di mana pun kita berada. (**)

Antonius Sinaga (Pembimbing Masyarakat Katolik Kanwil Kemenag DKI Jakarta)

Recent PostView All

Follow Us

Recent Post

Adblock Detected

Please support us by disabling your AdBlocker extension from your browsers for our website.