Film animasi Merah Putih One For All tengah menjadi sorotan publik setelah kabar biaya produksinya disebut mencapai Rp 6,7 miliar. Angka tersebut memicu perdebatan di kalangan netizen, terlebih karena beredar dugaan film ini mendapat dukungan dana dari pemerintah.
Namun, produser sekaligus sutradara Yuli Endiarto membantah keras kabar tersebut.
“Saya katakan kalau ada biaya seperti itu, saya sangat bersyukur,” ucap Endiarto di kantornya, Jakarta Selatan, Senin (11/8).
Endiarto menegaskan film ini murni hasil gotong royong mandiri tanpa sponsor finansial dari pemerintah.
“Saya sampaikan, bahwa kami ini gak ada biaya satu persen pun dari pemerintah. Jadi kami ini sifatnya gotong royong mandiri, urunan. Urunan juga bukan berarti urunan duit. Tapi urunan tenaga, pikiran, dan waktu. Jadi (biaya Rp 6,7 M) bukan gak benar, itu gak nyata,” jelasnya.
Ia juga menepis tuduhan bahwa film tersebut telah disokong dana pihak tertentu, meskipun tim produksi sempat bertemu Wamen Ekraf Irene Umar.
“Kalau ada (sumbangan) seperti itu, kami sangat bersyukur… Tapi faktanya kan gak ada. Kami juga heran dan ketawa. Dari mana asumsi-asumsi itu?” ujar Yuli sambil terkekeh.
Hingga kini, nominal pasti biaya produksi belum dihitung, bahkan kru yang terlibat disebut belum menerima bayaran.
“Kalau minta benefit di depan, ya mohon maaf, karena tujuannya kita mewarnai, kita sumbangsih. Benefit-nya ya nanti, kalau memang dapat feedback bagus, ya kita bagi-bagi. Kalau gak ada, ya benefit-nya ‘terima kasih’ dan kita semua sudah sepakat,” tambahnya.
Film berdurasi 70 menit ini mengangkat tema keberagaman Indonesia dan dijadwalkan tayang di bioskop mulai 14 Agustus 2025, bersamaan dengan drama La Tahzan, komedi Tinggal Meninggal, dan horor Panggilan dari Kubur.