Kasus dugaan keracunan massal usai pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Kulon Progo memunculkan saling silang pendapat. Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Karangwuni meminta agar kantin SMP Negeri 3 Wates ikut diperiksa, namun Dinas Kesehatan (Dinkes) Kulon Progo menilai dugaan tersebut belum berdasar karena korban tidak hanya berasal dari kalangan pelajar.
Asisten Lapangan SPPG Karangwuni, Fajar Pramono, mengatakan kantin sekolah perlu menjadi bagian dari investigasi. Menurutnya, menu MBG yang sama didistribusikan ke 37 sekolah dan enam posyandu, tetapi mayoritas laporan keracunan justru berasal dari SMPN 3 Wates. Karena itu, ia menduga ada faktor lain yang perlu ditelusuri, termasuk kondisi kantin sekolah.
Namun, Kepala Dinas Kesehatan Kulon Progo, Susilaningsih, menegaskan bahwa kantin sekolah belum menjadi fokus pemeriksaan. Ia mengingatkan bahwa korban keracunan tidak hanya siswa, tetapi juga ibu hamil dan ibu menyusui yang menerima makanan MBG dan dipastikan tidak membeli makanan di kantin sekolah. “Ibu hamil tidak jajan di kantin sekolah,” tegasnya, sehingga dugaan yang mengarah ke kantin dinilai belum dapat dijadikan kesimpulan.
Hingga kini, Dinas Kesehatan mencatat sebanyak 105 orang menjadi korban dugaan keracunan, terdiri atas 98 pelajar, empat tenaga pendidik, dua ibu menyusui, dan satu ibu hamil. Pemerintah masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan untuk memastikan penyebab pasti insiden tersebut.