JAKARTA — Kemegahan perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Monas justru menyisakan pertanyaan soal prioritas anggaran. Di tengah parade kendaraan hias, pertunjukan seni, dan pesta kembang api, panitia membuka penggalangan dana untuk membantu korban bencana alam di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Penggalangan dana ditampilkan melalui kode QR yang mengarah ke laman Tanggap Bencana NTT milik YBM Brilian. Donasi tersebut ditargetkan mencapai Rp2 miliar, dengan masa penggalangan masih berlangsung selama 14 hari.
Pemandangan tersebut memicu kritik dari sejumlah warganet. Mereka mempertanyakan mengapa masyarakat masih diminta berdonasi untuk korban bencana ketika negara menggelar perayaan kemerdekaan dengan meriah.
Salah satu komentar menyebut anggaran kegiatan pemerintah seharusnya dapat dialihkan untuk membantu masyarakat terdampak bencana. Kritik serupa juga menyoroti perlunya efisiensi dengan mengurangi kegiatan seremonial.
Sorotan tersebut muncul setelah gempa besar mengguncang NTT dan menyebabkan banyak warga kehilangan tempat tinggal serta membutuhkan bantuan kebutuhan dasar. Kondisi itu membuat persoalan penyaluran bantuan dan penggunaan anggaran menjadi perhatian publik.
Meski menuai kritik, Karnaval Bersatu Harmoni Nusantara tetap berlangsung meriah di kawasan Monas pada Senin malam (17/8/2026). Presiden Prabowo Subianto tiba sekitar pukul 19.15 WIB dan disambut Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka serta Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi.
Acara diisi lantunan Indonesia Raya, pertunjukan seni “Pagelaran Sabang Merauke”, atraksi drumben Universitas Pertahanan, hingga parade 32 kendaraan hias dari berbagai kementerian, lembaga, dan kepolisian.
Rangkaian perayaan kemudian ditutup dengan pesta kembang api. Di sisi lain, penggalangan dana untuk korban NTT tetap berjalan, menciptakan kontras yang memicu perdebatan mengenai makna kemerdekaan, solidaritas, dan prioritas penggunaan anggaran negara.