SOLO — Pemandangan baru kini menghiasi hiruk-pikuk Jalan Slamet Riyadi, Solo! Para juru parkir (jukir) kini tampil beda dengan rompi kuning, topi, dan sebuah kode QRIS yang menggantung tegak di leher mereka. Inilah gebrakan terbaru Wali Kota Solo, Respati Ardi, untuk mendigitalisasi sistem perparkiran sekaligus menyikat habis praktik jukir nakal yang kerap menggetok tarif alias nuthuk di luar aturan.
Berbeda dengan Kota Surabaya yang langsung tancap gas menerapkan sistem nontunai seratus persen, Pemkot Solo memilih jalur transisi. Sistem perparkiran saat ini masih memperbolehkan warga membayar dengan uang tunai sembari membiasakan diri dengan teknologi pemindaian digital.
Wali Kota menargetkan, seluruh sistem perparkiran di Solo akan sepenuhnya beralih ke pembayaran nontunai secara mutlak dalam kurun waktu satu hingga satu setengah tahun ke depan.
“Tapi kalau di Solo memang ini karena kita berbicara masalah transformasi. Ini perubahan baru. Kalau saya bilang ini new normal ya. Kebiasaan baru. Jadi memang kita bertransformasi dengan perlahan tapi pasti,” jelas Respati.
Meski terobosan ini diklaim jauh lebih transparan, realita di lapangan nyatanya masih butuh banyak adaptasi. Sejumlah jukir yang bertugas di jalan protokol mengaku sistem ini belum berdampak signifikan karena mayoritas masyarakat masih terbiasa membayar dengan uang tunai.
Tak hanya itu, para jukir di akar rumput juga masih kebingungan terkait teknis pembuatan rekening, pemotongan pajak, hingga mekanisme pasti penyetoran ke kas daerah.
Langkah digitalisasi ini sendiri lahir sebagai tamparan keras atas maraknya keluhan warga terkait tarif parkir gila-gilaan di sejumlah titik, mulai dari Pasar Triwindu hingga kawasan Museum Tahir. Belajar dari kegagalan penerapan sistem kartu e-money pada 2017 silam yang dinilai merepotkan, sistem QRIS statis ini diharapkan jauh lebih praktis karena tak mengharuskan warga repot melakukan isi ulang saldo.
Demi mengawal ketat kebijakan baru ini, Pemkot Solo bahkan telah menyebar nomor hotline khusus pengaduan dan menyiagakan Satgas Trantibumlinmas untuk meringkus jukir yang masih nekat memalak warga. Respati pun mewanti-wanti warga agar tak ragu bertindak jika menjadi korban tarif nuthuk.
“Langsung kontak hotline, foto, laporkan, kita langsung jemput nanti. Kita berikan sanksi,” tegas Respati.
Menurutnya, penerapan uji coba di jalan protokol ini akan menjadi batu loncatan penting.
“Ini menjadi simbol gitu. Bahwa ini loh bisa. Ketika di jalan protokol ini bisa, berarti di tempat-tempat ruas jalan yang lain nanti juga akan bisa,” tandasnya.