KUALA LUMPUR — Anggota parlemen Malaysia, Syed Saddiq Syed Abdul Rahman, mendesak negara-negara Asia Tenggara (ASEAN) untuk segera melayangkan protes diplomatik keras dan memberikan tekanan finansial kepada Indonesia imbas krisis kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Dalam sidang pembahasan Rencana Anggaran Negara Malaysia 2027 pada Selasa (13/10/2026), Saddiq menilai Indonesia belum melakukan upaya yang cukup untuk menjinakkan api. Ia bahkan menyarankan agar Indonesia diperlakukan sebagai pihak yang diasingkan.
“Anda perlu memperlakukan mereka sebagai pihak yang dikucilkan di kawasan,” tegas Syed Saddiq dari mimbar parlemen.
Tak hanya itu, ia juga mendorong kolaborasi Malaysia dan Singapura untuk menggunakan pengaruh finansial mereka guna memutus akses pendanaan bagi perusahaan-perusahaan yang terbukti membakar lahan di Indonesia.
“Putus akses mereka. Hantam dompet mereka,” imbuhnya.
Selain mengandalkan pemerintah, Saddiq mengajak masyarakat Malaysia menggunakan daya belinya untuk memboikot produk dari perusahaan-perusahaan tersebut. Ia pun mendorong penyusunan Undang-Undang Pencemaran Asap Lintas Batas seperti yang diterapkan Singapura.
Meski menekan Indonesia, ia meminta pemerintah Malaysia tak ragu menghukum perusahaan asal negaranya jika terbukti ikut menjadi dalang karhutla.
“Kita tidak boleh munafik. Jika perusahaan kita terlibat, jangan takut. Ambil tindakan terhadap perusahaan kita juga,” katanya.
Kemarahan ini mencuat seiring memburuknya kualitas udara di kawasan regional. Konsentrasi debu polutan (PM2.5) di Singapura melonjak hingga 284 mikrogram, mencetak rekor krisis terburuk tahun ini. Efek asap juga memaksa Timor Leste meliburkan sekolah tatap muka selama tiga hari demi melindungi siswa.
Di dalam negeri sendiri, Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di Kalimantan Tengah tembus di atas angka 1.200, atau empat kali lipat dari batas level sangat berbahaya.
Menghadapi musim karhutla terparah dalam 11 tahun terakhir yang diperparah fenomena El Nino ini, Presiden Prabowo Subianto telah menginstruksikan penebalan pasukan. Saat ini, lebih dari 69.000 personel gabungan telah diterjunkan ke titik-titik api. Rencananya, sengkarut kabut asap lintas batas ini akan dibawa ke meja perundingan para menteri luar negeri ASEAN pada bulan depan.