MAGELANG — Publik dibuat keheranan dengan anomali harga pangan yang terjadi saat ini. Di saat gudang Perum Bulog dilaporkan melimpah ruah dan surplus cadangan beras, harga beras di pasaran justru terus meroket dan mencekik daya beli masyarakat.
Menjawab kejanggalan ini, Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Muhammad Saleh Mustafa akhirnya blak-blakan. Saat berkunjung ke Universitas Tidar, Magelang, pada Kamis (29/10/2026), Saleh menuding adanya praktik kotor penimbunan dan pengoplosan beras sebagai dalang utama kekacauan harga.
Ia mencontohkan temuan penggerebekan di Kayu Manis, Jakarta Timur, di mana mafia beras nekat menyulap beras murah Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) menjadi beras premium demi meraup untung gila-gilaan.
“Budaya-budaya seperti ini (penimbunan) yang sedang kami tertibkan,” tegas mantan Wakasad tersebut.
Sebagai langkah antisipasi menekan harga akibat ulah mafia, pemerintah bersiap menggelontorkan cadangan beras pemerintah (CBP) ke pasaran. “Ada kasus seperti ini akan kami tutup dengan cadangan beras yang ada di Bulog,” katanya.
Pembelaan juga datang dari Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani. Ia menepis keras tudingan bahwa penyerapan agresif gabah oleh Bulog—yang sukses menembus 4,1 juta ton atau 103,29 persen dari target—menjadi penyebab pabrik penggilingan swasta kelaparan bahan baku. Rizal berdalih, kelonjakan harga saat ini terfokus pada kelas beras premium, sementara Bulog selama ini lebih banyak ditugaskan mengurus beras medium.
Namun, laju inflasi beras yang tercatat oleh BPS terus terjadi tanpa ampun selama sembilan bulan berturut-turut sepanjang 2026 jelas tak bisa dibiarkan. Merespons krisis ini, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman langsung menginstruksikan Bulog untuk banting setir ikut memproduksi 300 ribu ton beras premium hingga akhir Desember mendatang. Ratusan ribu ton beras premium ini rencananya bakal diguyur habis-habisan ke kota-kota besar dan ritel modern demi memukul mundur harga di pasaran.