SAMARINDA, KALIMANTAN TIMUR — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Samarinda diduga tidak seluruhnya terjadi akibat faktor alam. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Samarinda menyebut terdapat indikasi sejumlah kebakaran dilakukan secara sengaja.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Samarinda Suwarso mengatakan dugaan tersebut muncul berdasarkan hasil identifikasi tim yang melakukan penanganan langsung di lapangan.
“Identifikasi dari BPBD yang melakukan penanganan di lapangan, ada dugaan-dugaan disengaja,” kata Suwarso seusai menghadiri rapat koordinasi antisipasi El Nino ekstrem di Bapenda Samarinda, Rabu (19/8/2026).
Menurutnya, kondisi cuaca yang kering memang membuat lahan lebih mudah terbakar. Namun, faktor alam dinilai bukan penyebab utama seluruh kejadian karhutla.
“Walaupun memang ada juga yang karena alam, tapi kecil sekali. Tapi unsur kesengajaan menurut dugaan kami lebih besar persentasenya,” ujarnya.
10.700 Personel Dikerahkan
Penanganan karhutla kini melibatkan 10.700 personel gabungan. Operasi pemadaman juga didukung lima helikopter serta satu pesawat untuk pelaksanaan operasi modifikasi cuaca (OMC).
Upaya tersebut dilakukan untuk mencegah kebakaran meluas sekaligus mengurangi dampak asap yang ditimbulkan.
Kabut asap akibat karhutla mulai berdampak terhadap kesehatan masyarakat. BPBD Kalimantan Tengah mencatat 66.679 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
“Dampak kesehatan juga mulai terasa dengan tercatatnya 66.679 kasus ISPA,” katanya.
Dugaan adanya unsur kesengajaan dalam sejumlah kasus karhutla kini menjadi perhatian, terutama di tengah kondisi cuaca kering yang meningkatkan risiko kebakaran dan memperburuk dampak asap terhadap masyarakat.