Gelombang kritik publik akibat aksi flexing anak pejabat kembali memakan korban. Kali ini, Asisten I Sekretariat Daerah Kabupaten Gayo Lues, Aceh, dr. H. Nevirizal, memilih mengundurkan diri dari jabatannya setelah unggahan gaya hidup mewah anaknya viral di media sosial.
Keputusan tersebut langsung menyita perhatian publik. Di tengah maraknya kasus pejabat yang kerap bertahan di kursi meski diterpa kontroversi, langkah Nevirizal dinilai sebagai bentuk tanggung jawab moral yang patut diapresiasi.
Dalam surat pengunduran dirinya, Nevirizal menyebut polemik yang muncul akibat perilaku anggota keluarganya telah berdampak pada kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah. Karena itu, ia memilih mundur demi menjaga marwah institusi yang dipimpinnya.
Sementara itu, anaknya, Dea Arranoya, juga menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat. Ia mengakui konten yang menampilkan gaya hidup mewah, termasuk perjalanan ke luar negeri, telah menimbulkan kegaduhan. Seluruh unggahan yang menjadi sorotan pun telah dihapus.
Kasus ini kembali memunculkan pertanyaan publik: haruskah setiap pejabat yang keluarganya memicu polemik ikut bertanggung jawab secara moral? Terlepas dari pro dan kontra, langkah Nevirizal dinilai menunjukkan bahwa jabatan bukanlah sesuatu yang harus dipertahankan dengan segala cara ketika kepercayaan publik mulai tergerus.
Kini, keputusan tersebut menjadi sorotan luas dan bahkan disebut-sebut sebagai contoh etika politik yang layak diteladani. Mampukah pejabat lain menunjukkan sikap serupa ketika menghadapi krisis kepercayaan publik?