MELIHAT INDONESIA, SEMARANG – Di Indonesia, sering kali muncul kebingungan mengenai prioritas antara ibadah haji dan umrah. Dalam fiqih, haji merupakan kewajiban bagi umat Islam yang mampu, sementara umrah dianggap sebagai ibadah sunnah. Konsekuensinya, haji seharusnya didahulukan dibandingkan umrah.
Namun, kenyataan seperti daftar tunggu haji yang bisa memakan waktu hingga 27 tahun membuat banyak orang berpikir untuk melaksanakan umrah terlebih dahulu sebagai alternatif memenuhi kerinduan mereka terhadap Ka’bah dan Rasulullah.
Gus Baha, atau KH Ahmad Bahauddin Nursalim, memberikan pandangan yang berbeda mengenai isu ini. Dalam sebuah video yang diunggah di kanal YouTube @Driver_L, Gus Baha mengungkapkan bahwa jika seseorang sangat merindukan Rasulullah, mereka bisa langsung melakukan umrah tanpa harus menunggu kesempatan untuk haji.
Gus Baha menegaskan bahwa rasa rindu kepada Rasulullah adalah perasaan yang sangat manusiawi dan seharusnya tidak dibatasi oleh hukum fiqih yang kaku antara sunnah dan wajib. “Kalau kangen sama Rasulullah, ya berangkat saja umrah. Kalau menurut kiai lain, memang yang wajib dulu baru sunnah, haji dulu baru umrah,” jelasnya.
Dalam pandangan Gus Baha, jika seseorang sangat merindukan Rasulullah, umrah adalah solusi yang tepat. “Kalau masalahnya sudah kangen banget sama Rasulullah, ya berangkat umrah, karena kangen tidak ada hukumnya,” tambahnya.
Pandangan Gus Baha ini telah mempengaruhi banyak orang di sekitarnya untuk melakukan umrah. Banyak yang mengikuti nasihatnya, menganggap bahwa kerinduan terhadap Rasulullah adalah alasan sah untuk melaksanakan umrah sebelum haji.
“Kalau ditanya orang, katanya ikut Gus Baha dengan jawaban kangen tidak ada hukumnya,” ujar Gus Baha sambil tersenyum.
Pernyataan ini memberikan solusi bagi mereka yang terhalang oleh lama daftar tunggu haji. Gus Baha menekankan bahwa perasaan rindu harus dihargai dan tidak perlu dikekang oleh aturan fiqih yang ketat.
Dengan pendekatan yang lebih humanis, Gus Baha mengajak umat untuk memahami ajaran agama dengan fleksibilitas sesuai dengan kondisi emosional dan spiritual masing-masing individu. Pandangannya mencerminkan cara beragama yang lebih relevan dan memperhatikan kebutuhan serta perasaan umat Islam dalam menjalankan ibadah mereka. (**)