Kabut asap lintas batas kembali menjadi persoalan serius bagi Malaysia. Pemerintah setempat memperpanjang operasi hujan buatan di Sarawak sebagai upaya menekan dampak asap yang terbawa dari kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan, Indonesia.
Operasi penyemaian awan yang sebelumnya dimulai pada Kamis (3/9) dilanjutkan hingga Senin (7/9). Hujan buatan menyasar sejumlah kawasan bendungan dan sumber air, termasuk Bakun dan Murum, setelah operasi sebelumnya berhasil memicu hujan di kedua wilayah tersebut.
Dalam pelaksanaannya, petugas menggunakan pesawat Angkatan Udara Kerajaan Malaysia dengan membawa larutan garam untuk disebarkan ke awan yang dinilai memiliki kondisi mendukung terbentuknya hujan.
Langkah tersebut bukan sekadar untuk membantu mengurangi kabut asap, tetapi juga menjaga ketersediaan air di tengah kondisi cuaca kering. Pemerintah Malaysia menyatakan operasi akan dilakukan bergantung pada kondisi awan dan arah angin.
Kabut asap di Sarawak sendiri sebelumnya mencapai kondisi mengkhawatirkan. Pada Jumat (4/9), indeks polusi udara (API) di Serian sempat menembus 518, masuk kategori berbahaya dan mendorong pemerintah menetapkan status darurat di wilayah tersebut. Sebanyak 647 sekolah di sejumlah wilayah Sarawak juga ditutup sementara akibat kondisi udara yang buruk.
Data Asean Specialised Meteorological Centre yang dikutip pemerintah Malaysia menunjukkan tidak terdapat titik panas di Sarawak, sementara 184 titik panas terdeteksi di Kalimantan pada 6 September. Kondisi angin kemudian membawa asap menuju wilayah Sarawak.
Kondisi udara sempat membaik sehingga status darurat di Serian dicabut pada Senin (7/9). Namun, pemerintah tetap meminta warga membatasi aktivitas di luar ruangan karena sejumlah wilayah masih berada dalam kategori sangat tidak sehat.
Situasi bahkan kembali memburuk pada Selasa (8/9). API Serian tercatat mencapai 302, kembali masuk kategori berbahaya, hanya sehari setelah status darurat dicabut. Kuching, Sri Aman, dan Samarahan juga berada pada level sangat tidak sehat.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan kabut asap belum sepenuhnya berakhir. Pemerintah federal dan Sarawak masih melakukan pemantauan, sementara operasi hujan buatan menjadi salah satu langkah yang ditempuh untuk membantu memperbaiki kualitas udara sekaligus menjaga pasokan air.