Kamis, September 3, 2026

Mahasiswi FISIP Unsoed Diduga Dilecehkan Guru Besar, Mahasiswa Gelar Demo Tuntut Keadilan

Mahasiswi FISIP Unsoed Diduga Dilecehkan Guru Besar, Mahasiswa Gelar Demo Tuntut Keadilan

Dugaan kasus kekerasan seksual yang melibatkan seorang guru besar Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) terhadap mahasiswi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) mengundang kemarahan publik kampus. Puluhan mahasiswa menggelar aksi solidaritas dan menuntut keadilan bagi korban.

Aksi dimulai sejak Rabu (23/7), ketika sejumlah mahasiswa menggelar demo di kampus sebagai bentuk kepedulian terhadap kasus kekerasan seksual di perguruan tinggi. Presiden BEM Unsoed, Muhammad Hafidz Baihaqi, menyebut aksi itu murni inisiatif mahasiswa, bukan mengatasnamakan lembaga.

“Kami mendesak kampus untuk memproses dugaan pelecehan seksual ini secara adil, transparan, dan berpihak pada korban. Kami juga mendukung penuh kerja-kerja Satgas PPKS Unsoed,” tegas Hafidz, Kamis (24/7), dikutip dari Antara.

Ia membenarkan bahwa korban adalah mahasiswi FISIP dan pelakunya diduga seorang guru besar. Saat ini, laporan resmi baru diterima dari satu korban. Hafidz juga mengungkapkan bahwa mahasiswa sempat bertemu dengan Wakil Rektor III, Prof Norman Arie Prayogo, yang menyampaikan kampus sedang merumuskan rekomendasi sanksi bagi pelaku.

Penanganan kasus ini dilakukan bertahap, mulai dari investigasi Satgas PPKS, dilanjutkan pemeriksaan oleh Tim Pemeriksa Rektorat yang terdiri dari unsur pimpinan kampus dan atasan langsung pelaku. Selanjutnya, rekomendasi akan diajukan ke Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi (Kemendiktisaintek) untuk ditindaklanjuti.

Demo Makin Memanas: Mahasiswa Teriakkan “Prof Slamet, Where Are You?”

Senin (28/7/2025), mahasiswa FISIP kembali turun ke jalan. Mereka membawa spanduk, berorasi lantang, dan mendesak Dekan FISIP, Prof Slamet Rosyadi, untuk menemui massa.

“Prof Slamet, where are you?” ujar seorang mahasiswa dengan nada satire.
“Beri perhatian pada korban, jangan hanya diam!” teriak lainnya.

Mereka menilai pihak kampus lamban dalam menangani kasus ini. Dalam aksinya, mahasiswa menuntut keberpihakan pada korban, bukan pelaku, serta menyerukan keberanian bagi para penyintas untuk bersuara.

“Kami mahasiswa yang berpikir dengan jernih melawan ketidakadilan untuk perempuan yang dilecehkan. Hanya ada satu kata: hidup perempuan yang melawan!” teriak seorang orator.
“Untuk para korban, berbicaralah, jangan takut! Korban jangan diam, lawan… lawan!” sambung massa aksi.

Dekan Prof Slamet akhirnya keluar menemui mahasiswa setelah dilantik pagi harinya. Ia didampingi Ketua Satgas PPKSPT Unsoed, Tri Wuryaningsih, dan Juru Bicara Unsoed, Mite Setiansah. Prof Slamet menyatakan bahwa pihak kampus tengah mengevaluasi sistem internal agar kejadian serupa tak terulang.

“Kami tetap bergerak, bahkan sedang mengevaluasi sejumlah sistem agar kejadian serupa tidak terulang,” ujar Prof Slamet.

Namun, mahasiswa menganggap pernyataan tersebut belum memadai. Mereka mendesak agar dekan menandatangani tuntutan secara terbuka sebagai bentuk komitmen moral.

“Sudah berapa lama proses ini berjalan? Kami sudah cukup bersabar,” kata salah satu peserta aksi.

Unsoed Tegaskan Komitmen: Kasus Masih Didalami

Ketua Satgas PPKS Unsoed, Tri Wuryaningsih, menyampaikan bahwa pihaknya telah menerima laporan resmi dari satu korban dan telah melakukan klarifikasi terhadap korban, terduga pelaku, serta saksi. Satgas juga mendampingi korban secara intensif, termasuk pendampingan psikologis karena kondisi korban memerlukan perhatian khusus.

“Seluruh hasil pemeriksaan dari Satgas telah diserahkan kepada Tim Pemeriksa Tingkat Universitas yang memiliki kewenangan untuk menjatuhkan dan/atau merekomendasikan sanksi sesuai Permendikbudristek Nomor 55 Tahun 2024,” ujar Wury.

Wakil Rektor Unsoed sekaligus Ketua Tim Pemeriksa, Prof Kuat Puji Prayitno, mengatakan pihaknya bekerja secara intensif dan masih melakukan pendalaman. Ia menegaskan bahwa proses belum mencapai kesimpulan karena pemeriksaan masih berjalan.

“Yang utama saya tegaskan bahwa Unsoed berkomitmen terhadap penyelesaian kasus-kasus kekerasan seksual. Tim Pemeriksa telah bekerja untuk melakukan pendalaman terhadap dugaan kasus tersebut,” jelas Prof Kuat.

Ia menyebut sejumlah pihak telah dimintai keterangan, termasuk Ketua Satgas dan terlapor. Jika diperlukan, saksi tambahan dan tenaga ahli juga akan dihadirkan.

“Kami tegaskan, Unsoed berkomitmen sebagai kampus anti kekerasan seksual. Karenanya, kami akan menuntaskan kasus ini,” tutupnya.

Aksi mahasiswa ditutup dengan seruan untuk terus bersuara hingga kampus benar-benar menindak pelaku. “Jangan lindungi pelaku, tuntut keluar dari kampus dan beri hukuman seberat-beratnya, ini kampus, bukan ruang aman bagi predator!” ujar salah satu mahasiswa dengan tegas.

Recent PostView All

Follow Us

Recent Post

Adblock Detected

Please support us by disabling your AdBlocker extension from your browsers for our website.