Senin, Juli 27, 2026

PDIP Respons Ucapan Ahmad Ali soal Nenek-nenek yang Masih Memimpin Partai

DPP PDI-Perjuangan merespons keras pernyataan Ketua Harian DPP PSI Ahmad Ali yang menyinggung adanya “nenek-nenek” masih aktif memimpin partai, sindiran yang diduga diarahkan kepada Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri.

Politikus DPP PDIP Guntur Romli menilai serangan Ahmad Ali justru memperlihatkan motif politik pribadi. Ia menyebut pernyataan keras Ahmad Ali belakangan ini tak lepas dari kasus hukum yang melibatkannya di KPK.

“Publik juga belum amnesia, rumah Ahmad Ali digeledah KPK, Rp 3,4 miliar disita, lengkap dengan tas dan jam mewah. Dengan situasi seperti itu, sangat mudah membaca kenapa hari ini ia menjadi pembela Jokowi paling vokal,” kata Guntur Romli, Senin (24/11/2025).

Menurutnya, pembelaan berlebihan Ahmad Ali terhadap Presiden ke-7 RI Joko Widodo bukanlah bentuk loyalitas.

“Itu bukan soal loyalitas melainkan strategi bertahan hidup, mencari ruang yang terasa lebih aman secara politik.”

Romli juga menyinggung kepindahan Ahmad Ali dari NasDem ke PSI setelah kehilangan pengaruh usai kalah di Pilkada Sulawesi Tengah 2024.

“Di PSI ia langsung didudukkan sebagai Ketua Harian, sebuah panggung baru untuk memoles diri sekaligus menyerang siapa pun yang mengkritik Jokowi demi menunjukkan kesetiaannya. Publik pun tertawa kecil, karena ini bukan lompatan ideologis. Ini lompatan oportunis.”

Terkait sindiran “nenek-nenek”, Guntur Romli menyebut ucapan itu ironis jika memang diarahkan ke Megawati.

“Lebih ironis lagi, Ahmad Ali menghinakan seorang perempuan yang masih kuat dan sehat secara fisik tidak penyakitan seperti Jokowi dan perempuan itu masih waras, dengan sebutan ‘nenek-nenek’.”

Ia menilai pihak yang menyerang Megawati hanya kecewa karena saat Jokowi masih menjadi kader PDIP, Megawati adalah satu-satunya yang berani menolak wacana tiga periode.

“Mungkin karena perempuan itu berani menolak tiga periode, sesuatu yang tidak pernah sanggup diucapkan oleh sebagian lelaki yang hidup dari drama politik.”

Romli bahkan menyamakan posisi Jokowi terhadap Megawati dengan legenda “Malin Kundang”. “Padahal karena dukungan perempuan itu kepada Jokowi, dari Solo sampai Istana, sama saja Ahmad Ali membandingkan Jokowi dengan Si Malin Kundang.”

Sementara itu, Ahmad Ali sebelumnya menolak anggapan bahwa Jokowi masih cawe-cawe politik setelah tidak lagi menjabat Presiden. Ia menilai hal itu wajar.

“Terus ketika dia, bicara politik, ‘ya sudah waktunya beristirahat’, Oh, ada nenek-nenek yang sudah puluhan tahun jadi Ketua Partai, sudah disuruh berhenti.”

Ia juga menyinggung tokoh senior lain yang merupakan mantan Presiden namun tetap memimpin partai. Menurutnya, kritik terhadap Jokowi hanyalah bentuk ketakutan pihak lain.

“Ada Bapak Presiden yang sekarang sudah 20 tahun juga tidak sudah disuruh berhenti. Apa sih takutnya Pak Jokowi ini? Bagi kami melihat Pak Jokowi, melihatnya itu hanya senyum-senyum saja.”

Ahmad Ali menegaskan bahwa PSI menjadikan Jokowi sebagai panutan.

“Pak Jokowi itu orang deso. Bukan keturunan. Bukan keturunan siapa-siapa… anak-anak desa juga punya kesempatan, contohnya Jokowi.”
Ia menyayangkan sikap Jokowi yang tetap diam saat diserang.

“Tapi Pak Jokowi kan gini, dia dihina, dimaki-maki, tapi ketika dia melawan, dia disuruh, ya sudah Pak Jokowi harus jadi negarawan, ya kan?”

Dengan saling lempar sindiran antara PSI dan PDIP ini, ketegangan politik pasca-pemerintahan Jokowi kembali memanas, terutama setelah ucapan Ahmad Ali yang dianggap merendahkan Megawati dan pembelaannya yang dianggap PDIP sarat kepentingan pribadi.

Recent PostView All

Follow Us

Recent Post

Adblock Detected

Please support us by disabling your AdBlocker extension from your browsers for our website.