MELIHAT INDONESIA, PALEMBANG – Siapa yang gak kenal pempek? Makanan khas Palembang ini jadi idola banyak orang. Gurih, asam, pedas — rasa khas dari kuah cuko bikin siapa pun ketagihan. Meski di berbagai daerah lain seperti Jambi dan Bengkulu juga punya variasi serupa, pempek tetap lekat dengan identitas Palembang. Selain pempek, kuliner khas lain seperti mi celor, tempoyak, dan tekwan juga jadi bagian dari kebanggaan Sumatra Selatan.
Pempek dibuat dari kombinasi daging ikan giling, tepung sagu, telur, dan bumbu lainnya. Dari adonan itu, tercipta berbagai jenis kudapan seperti tekwan, lenggang, model, celimpungan, dan laksan. Yang bikin istimewa adalah kuah cukonya — perpaduan rasa manis, asam, dan pedas — yang bikin lidah terus ingin mencicipi.
Sejarah Panjang Pempek
Kuliner ini ternyata punya akar sejarah yang panjang. Dilansir dari berbagai sumber, pembuatan pempek diyakini sudah ada sejak era Kedatuan Sriwijaya pada 684 Masehi. Prasasti Talang Tuo, yang ditemukan di sebelah barat Palembang, menyebut keberadaan Taman Sri Ksetra yang ditanami berbagai tanaman seperti aren dan sagu. Menurut Kemas Ari Panji, sejarawan Palembang, bahan-bahan itu terkait dengan pempek dan cuko yang kita kenal sekarang.
Awalnya, pempek dikenal dengan sebutan “kelesan,” yang artinya ditekan-tekan. Teknik ini merujuk pada cara pembuatannya yang menggunakan mangkuk berlubang. Baru pada awal abad ke-20, pempek mulai dijual oleh orang Tionghoa di sekitar Masjid Agung Palembang. Nama “pempek” sendiri konon berasal dari panggilan “Apek” atau “Empek”, sapaan akrab untuk pedagang tersebut.
Bahan Utama yang Istimewa

Pada awalnya, ikan belida menjadi bahan utama pempek. Namun, karena populasinya yang semakin langka, bahan tersebut digantikan dengan ikan tenggiri, gabus, atau kakap merah. Meski ikan laut seperti tenggiri memiliki aroma amis, pengolahannya yang tepat tetap menghasilkan cita rasa yang nikmat.
Jenis ikan yang digunakan memengaruhi tekstur dan rasa pempek. Di antara berbagai pilihan, ikan tenggiri, gabus, dan belida masih jadi rekomendasi utama untuk menciptakan rasa autentik pempek Palembang.
Ragam Pempek dan Cara Penyajian
Pempek hadir dalam berbagai bentuk dan cara penyajian. Jenis-jenisnya meliputi pempek lenjer, kapal selam, adaan, keriting, dan kulit. Setiap jenis punya keunikannya sendiri. Pempek kapal selam, misalnya, diisi telur utuh di dalamnya, sementara pempek kulit dibuat dari campuran kulit ikan yang memberikan tekstur renyah.
Jika pempek identik dengan cuko, jenis kudapan seperti celimpungan dan laksan justru menggunakan kuah santan. Sementara itu, tekwan dan model disajikan dengan kuah bening yang berisi irisan bengkuang, kepala udang, dan taburan bawang goreng. Semua varian ini memperkaya ragam kuliner berbahan dasar ikan dari Palembang.
Pempek di Era Modern
Saat ini, pempek tidak hanya ditemukan di Palembang. Popularitasnya telah meluas ke berbagai daerah di Indonesia, bahkan ke mancanegara. Tak hanya jadi kudapan favorit, pempek juga menjadi ikon budaya yang melambangkan tradisi kuliner Sumatra Selatan.
Untuk menjaga warisan ini, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi tengah memperjuangkan pempek agar diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh UNESCO. Prosesnya panjang, tetapi sejalan dengan sejarah pempek yang kaya dan penuh makna.
Resep Pempek untuk Dicoba di Rumah
Penasaran ingin bikin sendiri? Berikut resep sederhana untuk mencoba membuat pempek lenjer dan kapal selam di rumah:
Bahan Pempek:
- 500 gr daging ikan tenggiri, haluskan
- 250 gr tepung sagu
- 2 sdt garam
- 4 butir telur (untuk isi kapal selam)
- Minyak goreng secukupnya
Bahan Cuko:
- 1 liter air
- 250 gr gula merah, sisir halus
- 60 gr asam jawa
- 10 buah cabai rawit merah
- 4 siung bawang putih
- 2 sdm ebi, sangrai dan haluskan
- 1 sdt garam
Cara Membuat:
- Campurkan ikan giling, garam, dan air. Uleni hingga rata.
- Tambahkan tepung sagu sedikit demi sedikit sambil diaduk perlahan.
- Bentuk adonan sesuai jenis pempek yang diinginkan.
- Rebus dalam air mendidih hingga mengapung. Angkat dan tiriskan.
- Goreng pempek hingga kecokelatan.
Cuko:
- Masak air, gula merah, dan asam jawa hingga mendidih.
- Haluskan cabai, bawang putih, dan ebi, lalu masukkan ke dalam rebusan.
- Saring dan dinginkan sebelum disajikan.
Dari Warisan ke Masa Depan
Pempek adalah bukti bahwa kuliner bukan sekadar makanan, tapi juga warisan budaya yang menghubungkan masa lalu dan masa kini. Jadi, kapan terakhir kali Anda menikmati seporsi pempek dengan kuah cuko yang bikin nagih? (**)