Citra Hotman Paris Hutapea sebagai pengacara pembela rakyat kecil kini hancur oleh pengakuan anak kandungnya sendiri, Frank Alexander Hutapea. Frank terang-terangan mengungkap kekecewaannya melihat sang ayah pasang badan membela tersangka kasus korupsi besar, eks Jampidsus Febrie Adriansyah.
Lewat sindiran tajamnya, Frank membongkar narasi ayahnya yang selama ini mengaku selalu mencari dua jenis klien: si miskin dan konglomerat. Bagi Frank, itu hanya kedok. Ia meyakini ayahnya memang “doyan duit”, dan Febrie jelas masuk dalam golongan klien konglomerat yang mampu membayar mahal.
Sebagai bukti tabiat materialistis sang ayah, Frank tak segan membongkar urusan keluarga. Ia menyinggung soal angpao pernikahan adiknya, Fritz Hutapea, yang menurutnya turut diambil oleh Hotman. Frank pun menilai kepedulian Hotman terhadap kasus Febrie saat ini tak lebih dari sekadar ajang pencitraan.
Benturan Narasi Hotman vs Kapolri
Di tengah tudingan miring anaknya, Hotman justru sibuk membangun narasi heroik dengan membawa nama Presiden Prabowo.
“Ingat, saya 25 tahun sebagai pengacaranya Prabowo. Semua perkara besar beliau saya yang pegang. Bahkan waktu beliau Menhan pun saya sering diminta bantuan tanpa dibayar,” klaim Hotman.
Ia juga memosisikan Febrie sebagai korban kriminalisasi. “Jampidsus itu adalah yang dibanggakan oleh Presiden Prabowo. Dia mengembalikan kerugian negara total Rp 430 triliun. Bayangkan, orang yang jadi kebanggaan Presiden tiba-tiba dikriminalisasi tanpa pamit sama Presiden,” cetusnya.
Namun, narasi “tanpa pamit Presiden” itu menjadi bumerang telak. Pasalnya, pernyataan Hotman bertolak belakang dengan keterangan resmi Kapolri, yang dengan tegas menyatakan bahwa penyidikan terhadap Febrie Adriansyah dilakukan justru sesuai dengan arahan Presiden.
Rentetan drama dan kejanggalan ini pada akhirnya menyisakan satu kesimpulan mutlak di mata masyarakat: Jika anaknya sendiri yang notabene hidup satu atap saja sudah tidak percaya dengan tabiat bapaknya, lalu bagaimana publik bisa percaya?