MELIHAT INDONESIA, BANDUNG – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, terus menarik perhatian publik dengan serangkaian gebrakan yang ia lakukan sejak menjabat pada tahun 2025. Salah satu hal yang mencolok adalah kebiasaan Dedi Mulyadi mendokumentasikan kegiatan-kegiatannya lewat akun media sosial pribadinya. Namun, langkah ini menimbulkan berbagai spekulasi. Apakah itu benar-benar upaya untuk memperbaiki citra dirinya, atau justru sebuah bentuk komitmen nyata dalam memimpin?
Melalui unggahan-unggahan di media sosial, Dedi Mulyadi menunjukkan lebih dari sekadar momen rapat dengan para pejabat. Ia kerap terlihat terjun langsung ke lapangan, berbicara dan berdialog dengan masyarakat. Tidak jarang, dia mengungkapkan emosi mendalam terkait permasalahan yang ada di masyarakat, bahkan sampai berteriak keras karena mendapati situasi yang membuatnya marah.
Namun, banyak yang bertanya-tanya apakah ini hanya bagian dari pencitraan. Terlebih lagi, unggahan-unggahan tersebut sering kali mendapat perhatian luas dari netizen, tidak hanya dari Jawa Barat, tetapi juga dari luar provinsi.
Pakar Komunikasi Politik dari Universitas Indonesia (UI), Effy Z Rusfian, memberikan pandangannya terkait hal ini dalam sebuah tayangan di TV One. Menurut Effy, apa yang dilakukan Dedi Mulyadi bukanlah pencitraan belaka, melainkan sebuah upaya political branding yang dilakukan dengan cermat dan tepat. Ia menyebut bahwa interaksi sosial yang dibangun antara Dedi Mulyadi dan masyarakat adalah inti dari brand politik yang tengah dibangun oleh Gubernur Jawa Barat tersebut.
“Yang dilakukan Kang Dedi ini adalah political branding lewat political impression management, di mana interaksi sosial antara dirinya dan masyarakat menjadi bagian penting dalam membentuk citra yang positif,” jelas Effy.
Effy juga menambahkan bahwa gebrakan seperti ini diperlukan, terutama untuk melakukan evaluasi terhadap setiap kebijakan atau tindakan pejabat publik. Dalam pandangannya, tanpa adanya pemantauan dan evaluasi yang jelas, perilaku pejabat publik bisa terjebak dalam rutinitas yang kurang membawa perubahan signifikan.
“Dedi Mulyadi perlu mendapatkan apresiasi atas political branding yang ia lakukan. Ini bukan sekadar pencitraan, melainkan langkah nyata dalam berinteraksi dengan masyarakat,” ungkapnya.
Melihat track record Dedi Mulyadi yang sudah lama berinteraksi dengan masyarakat, Effy menilai bahwa apa yang dilakukan oleh sang gubernur sudah sejalan dengan karakteristik dan rekam jejak yang telah ia bangun sejak lama, bahkan sebelum menjabat sebagai Gubernur Jawa Barat.
Dengan berbagai gebrakan yang ia lakukan, Dedi Mulyadi telah membuktikan bahwa ia tak sekadar berfokus pada citra, melainkan juga pada bagaimana memberikan solusi bagi masalah nyata yang dihadapi masyarakat Jawa Barat. (**)