Kegagalan Timnas Indonesia kembali memunculkan pertanyaan besar soal arah pengelolaan sepak bola nasional. Hasil imbang 1-1 melawan Singapura di Piala AFF 2026 menambah daftar hasil mengecewakan Timnas dalam beberapa waktu terakh
Kegagalan ini tidak bisa dilihat sebagai persoalan satu pertandingan. Sejak pergantian pelatih dari Shin Tae-yong ke Patrick Kluivert, performa Timnas masih belum menunjukkan perubahan yang meyakinkan. Padahal, kualitas pemain Indonesia semakin berkembang dan sejumlah pemain bahkan berkarier di luar negeri.
Namun, materi pemain yang bagus belum otomatis menghasilkan permainan dan prestasi. Timnas masih kerap terlihat kehilangan arah dan kesulitan menerapkan strategi.
Kekalahan telak 0-3 dari Vietnam di Stadion Pakansari, Bogor, pada 3 Agustus 2026, menjadi salah satu contoh yang kembali memperkuat sorotan tersebut. Tiga gol Vietnam dicetak Nguyen Van Vi, Nguyen Hai Long, dan Nguyen Xuan Son.
Setelah kekalahan itu, Timnas hanya mampu bermain 1-1 melawan Singapura. Rentetan hasil tersebut membuat alasan “masih dalam proses” mulai dipertanyakan.
Persoalan pun tidak bisa terus dibebankan kepada pemain. Mereka tetap berjuang di lapangan. Pertanyaan justru mengarah pada strategi, sistem, dan kepemimpinan sepak bola nasional.
Sorotan kemudian tertuju kepada Erick Thohir yang merangkap sebagai Ketua Umum PSSI sekaligus Menteri Pemuda dan Olahraga. Rangkap jabatan tersebut dinilai perlu dievaluasi karena sepak bola membutuhkan perhatian besar, sementara Erick juga memiliki tanggung jawab mengurus seluruh cabang olahraga nasional.
Sebagai pembantu Presiden, keputusan evaluasi berada di tangan pemerintah. Erick dinilai perlu menentukan apakah akan fokus memimpin PSSI atau menjalankan tugas sebagai Menpora.
Timnas tidak hanya membutuhkan pemain berkualitas, tetapi juga sistem, strategi, dan kepemimpinan yang mampu mengubah kualitas tersebut menjadi prestasi.