Di tengah situasi duka dan kesulitan yang masih dirasakan masyarakat Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), rencana kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke wilayah terdampak gempa masih dalam tahap pembahasan.
Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi sebelumnya mengatakan pemerintah memilih fokus menangani kondisi di lapangan terlebih dahulu.
“Sedang direncanakan, tetapi perlu juga kami sampaikan bahwa kadang-kadang memang di masa-masa awal itu kondisi di lapangan, kita memilih untuk lebih fokus mengatasi masalah terlebih dahulu,” kata Prasetyo.
Namun, penjelasan tersebut juga memunculkan pertanyaan: mengapa kehadiran Presiden harus menunggu begitu lama ketika masyarakat di wilayah terdampak justru membutuhkan kehadiran simbolis seorang pemimpin?
Bagi warga yang sedang kehilangan tempat tinggal, menghadapi korban jiwa, serta masih dihantui gempa susulan, kehadiran Presiden tidak selalu dipandang sekadar sebagai kunjungan seremonial. Kehadiran kepala negara dapat menjadi bentuk empati sekaligus pesan bahwa penderitaan mereka benar-benar diperhatikan oleh pemerintah pusat.
Di tengah keterbatasan dan ketidakpastian yang dihadapi korban bencana, masyarakat tentu berharap bukan hanya bantuan logistik, tetapi juga melihat langsung pemimpinnya datang, menyampaikan belasungkawa, mendengar keluhan, dan merasakan situasi yang mereka alami.
Pemerintah memang memiliki alasan untuk memastikan penanganan darurat tidak terganggu oleh kunjungan pejabat. Namun, pertanyaannya adalah sampai kapan persiapan harus dilakukan ketika warga sudah menunggu kehadiran pemimpinnya di tengah kondisi sulit?
Kunjungan Presiden ke lokasi bencana pada akhirnya bukan hanya persoalan agenda kenegaraan. Bagi masyarakat yang sedang berduka, kehadiran seorang pemimpin dapat menjadi bentuk nyata bahwa negara tidak meninggalkan mereka sendirian menghadapi bencana.