JAKARTA — Sikap Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), Nusron Wahid, yang absen dua kali dari panggilan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) namun tetap hadir dalam Sidang Kabinet Paripurna, memantik sorotan. Direktur Eksekutif Trias Politika Agung Baskoro, menilai keluwesan dan sikap santai Nusron dalam menghadapi proses hukum tak lepas dari kuatnya rekam jejak politik yang ia miliki.
Nusron sedianya diperiksa sebagai saksi terkait kasus dugaan suap dan gratifikasi pengurusan Hak Guna Bangunan (HGB) lahan Summarecon di Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Dari delapan tersangka yang telah ditetapkan penyidik KPK, empat di antaranya santer disebut sebagai orang kepercayaan Nusron.
Meski keterangannya krusial, mantan politisi Golkar itu tercatat mangkir pada panggilan pertama Rabu (7/10/2026) dengan dalih bentrok jadwal kementerian. Ia kemudian kembali tidak memenuhi panggilan penjadwalan ulang pada Kamis (15/10/2026).
Alih-alih menyambangi Gedung Merah Putih KPK, Nusron justru menampakkan diri dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (21/10/2026). Berbalut kemeja putih dan peci hitam, ia tampak duduk di barisan tengah pejabat, tepat di samping Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni.
Merespons fenomena ini, Agung Baskoro memandang Nusron terkesan cukup santai menghadapi pusaran kasus yang menjerat anak buahnya. Menurut Agung, rasa percaya diri tersebut dipengaruhi oleh track record panjangnya di panggung kekuasaan, mulai dari rekor lima kali terpilih sebagai anggota DPR RI hingga kedekatannya dengan mantan Presiden Joko Widodo semenjak diangkat menjadi Kepala BNP2TKI.