BANJARMASIN — Jagat media sosial tengah dihebohkan oleh gelombang seruan boikot terhadap produk oleh-oleh khas Kalimantan Selatan, Bolu Gulung Hj. Enong. Aksi protes ini meledak usai anggota DPR RI asal Kalsel, Muhammad Rofiqi, yang juga putra pemilik usaha tersebut, melontarkan pernyataan kontroversial yang mengeklaim bahwa kondisi daerahnya berstatus aman dan kondusif.
Pernyataan sang politikus dinilai sangat bertolak belakang dengan realitas penderitaan warga Kalsel di lapangan. Masyarakat diketahui tengah menjerit menghadapi rentetan krisis, mulai dari pemadaman listrik bergilir, kesulitan akses air bersih, hingga pekatnya kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Alhasil, kemarahan publik merembet dari ranah kritik politik menjadi gerakan boikot ekonomi. Berbagai komentar pedas membanjiri media sosial, menyerukan agar masyarakat berhenti membeli produk dari usaha keluarga Rofiqi demi memberikan efek jera.
“Jangan ditukari (dibeli) lagi Bolu Hj. Enong, karena itu usaha keluarganya, miskinkan sekalian biar tahu rasa,” tulis salah satu warganet yang geram.
Kekecewaan netizen bahkan mulai melebar menjadi spekulasi liar terkait isu lingkungan di daerah tersebut. Beberapa warganet terang-terangan mengaitkan klaim ‘kondusif’ itu dengan kecurigaan adanya keterlibatan pihak tertentu dalam pembukaan lahan perumahan di wilayah Kabupaten Banjar.
Tak hanya itu, muncul pula seruan lanjutan di kolom komentar yang memprovokasi warganet untuk mendata tempat usaha lain di Banjarmasin yang perlu dimasukkan ke dalam daftar hitam atau blacklist imbas polemik ini.
Fenomena ini memperlihatkan betapa fatalnya imbas pernyataan seorang pejabat publik terhadap kelangsungan bisnis yang dikelola keluarganya. Meski secara hukum bisnis tersebut belum tentu berkaitan dengan isu politik atau lingkungan, gerakan boikot massal ini membuktikan bahwa simpati konsumen bisa lenyap dalam sekejap ketika suara wakil rakyat dianggap mengabaikan penderitaan masyarakat di akar rumput.
Hingga kini, belum ada klarifikasi resmi baik dari pihak Muhammad Rofiqi maupun manajemen Bolu Gulung Hj. Enong terkait meluasnya ajakan boikot ini. Publik masih menanti penjelasan utuh mengenai konteks pernyataan sang anggota dewan agar polemik dan spekulasi liar tidak semakin memanas.