MELIHAT INDONESIA, SEMARANG – Berbuka puasa dengan kurma sudah menjadi kebiasaan banyak umat Muslim, karena diyakini sebagai sunnah Nabi Muhammad SAW. Namun, bagaimana jika kurma sulit didapat atau harganya mahal? Apakah tetap harus berbuka dengannya?
KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau yang akrab disapa Gus Baha menegaskan bahwa berbuka dengan kurma memang sunnah, tetapi bukan sesuatu yang wajib. Dalam sebuah ceramahnya, ia mengingatkan agar umat Islam tidak menjadikan amalan sunnah sebagai beban.
“Kalau ada kurma, ya bagus, itu sunnah. Tapi kalau tidak ada, tidak perlu repot-repot mencarinya. Yang penting berbuka dengan sesuatu yang halal dan mudah didapat,” kata Gus Baha dalam tayangan YouTube @namakurony.
Ia kemudian mencontohkan kondisi di beberapa daerah yang mungkin sulit mendapatkan kurma. Jika masyarakat di daerah tersebut tetap memaksakan berbuka dengan kurma hanya demi mengejar sunnah, justru bisa menjadi sesuatu yang memberatkan.
“Di daerah yang kondisi ekonominya sulit, seperti di Gunungkidul misalnya, apakah harus berbuka pakai kurma? Kan tidak harus,” ujarnya.
Menurut Gus Baha, Islam adalah agama yang penuh kemudahan. Sunnah bukanlah sesuatu yang harus dilakukan dengan keterpaksaan, melainkan jika memungkinkan. Jika tidak ada kurma, makanan manis lain bisa menjadi pilihan. Bahkan, jika makanan manis pun tidak ada, cukup berbuka dengan air putih.
“Dalam hadis, Nabi SAW bersabda, ‘Jika kalian berbuka, maka berbukalah dengan kurma. Jika tidak ada, maka dengan air, karena air itu menyucikan.’ Jadi, berbuka dengan air saja sudah cukup,” jelasnya.
Gus Baha juga membagikan pengalamannya saat banyak orang datang membawakannya berbagai jenis kurma. Namun, ia justru tidak selalu memakannya saat berbuka.
“Orang-orang sering bawa kurma buat saya. Tapi saya malah lebih suka berbuka dengan dawegan (kelapa muda),” katanya sambil tersenyum.
Ia mengingatkan agar umat Islam tidak terlalu membebani diri sendiri dengan amalan sunnah yang sebenarnya ringan. Sunnah seharusnya menjadi tambahan dalam ibadah, bukan sesuatu yang justru membuat orang merasa terpaksa atau terbebani.
Menurutnya, ada sebagian orang yang terlalu kaku dalam menjalankan ibadah, bahkan sampai menegur orang lain hanya karena tidak berbuka dengan kurma. Padahal, hal tersebut bukan sesuatu yang wajib.
“Jangan sampai sunnah yang seharusnya ringan justru malah menjadi beban bagi diri sendiri atau orang lain,” tegasnya.
Gus Baha juga mengingatkan bahwa berbuka puasa adalah momen kebahagiaan yang seharusnya dijalani dengan tenang dan penuh rasa syukur.
“Yang penting berbuka, makan yang ada, dan bersyukur. Itu sudah cukup,” pungkasnya. (**)