Mengolah makanan bisa dilakukan dengan berbagai cara, namun tidak semua metode memasak memberikan hasil yang sama dari sisi kandungan gizi.
Dua teknik populer yang sering dibandingkan adalah mengukus dan merebus.
Keduanya dikenal lebih sehat daripada menggoreng karena tidak membutuhkan minyak tambahan, namun perbedaan prosesnya berpengaruh besar terhadap nilai nutrisi yang tersisa.
Mengukus dilakukan dengan memanfaatkan uap air panas tanpa membuat makanan bersentuhan langsung dengan air.
Cara ini membantu menjaga bentuk, warna, dan tekstur makanan tetap alami.
Menurut World Food Wine, mengukus mempertahankan kalori dan lemak tetap rendah.
Sementara itu, NDTV mencatat bahwa vitamin yang larut dalam air, seperti vitamin C dan B, lebih banyak bertahan dibandingkan saat makanan direbus.
Tak hanya sayuran, daging, ayam, hingga seafood juga bisa dikukus untuk menjaga kesegaran rasa tanpa kehilangan banyak gizi.
Sebaliknya, merebus membuat makanan terendam langsung dalam air panas, sehingga sebagian vitamin dan mineral mudah larut dan hilang.
Akibatnya, rasa makanan cenderung lebih hambar dan teksturnya menjadi lembek.
Meski begitu, metode merebus cocok untuk bahan berpati seperti kentang atau ubi karena hasilnya lebih empuk.
Menurut penelitian Health, sayuran yang dikukus memiliki kadar vitamin C, beta-karoten, dan flavonoid lebih tinggi dibanding yang direbus.
Kehilangan vitamin C pada proses kukus hanya sekitar 8,6–14,3 persen, sedangkan pada rebusan bisa mencapai 40–54 persen.
Selain itu, mengukus juga menjaga senyawa bermanfaat bagi pencernaan, terutama pada sayuran seperti brokoli, kubis, dan kembang kol.
Kesimpulannya, jika tujuan utama adalah menjaga nutrisi makanan tetap maksimal, mengukus menjadi pilihan yang lebih sehat dibandingkan merebus.