MELIHAT INDONESIA, JAKARTA – Dalam kehidupan spiritual umat Islam, doa menjadi salah satu cara yang paling khusyuk untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Salah satu doa yang sangat dianjurkan adalah doa penghapus dosa, yang mengandung harapan akan ampunan Ilahi. Ustadz Adi Hidayat (UAH) menjelaskan keutamaan doa ini dalam sebuah kajian yang menginspirasi, mengingatkan umat Muslim tentang warisan agung dari Nabi Muhammad SAW.
Nabi Muhammad SAW, sebagai suri teladan terbaik, sering mengajarkan doa-doa yang penuh makna dan keberkahan kepada para sahabat dan keluarga terdekatnya. Salah satu doa istimewa yang diajarkan langsung kepada Sayidah Aisyah memiliki pesan mendalam tentang ampunan dan kasih sayang Allah. UAH menyampaikan ajaran ini dengan mengutip hadits yang menggambarkan betapa lembut dan penuh kasihnya Nabi saat mengajarkan doa tersebut.
Dalam sebuah tayangan di kanal YouTube @SYUKUR_99, UAH membahas betapa pentingnya doa ini. “Aisyah, mau tidak aku ajarkan satu kalimat? Jika engkau membacanya dengan benar dan tuntas, maka semua dosa yang pernah engkau lakukan akan diampuni,” demikian kutipan kalimat Nabi yang dikisahkan UAH. Penuturan ini memberikan gambaran yang menggetarkan hati, mengingatkan bahwa Nabi selalu menawarkan jalan pengampunan bagi umatnya.
Doa yang diajarkan Nabi tersebut dikenal dalam dua versi riwayat yang hampir serupa. Versi pertama berbunyi, “Allohumma innaka ‘afuwwun kariim tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annii,” yang artinya, “Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf yang menyukai permintaan maaf, maka maafkanlah aku.” Sementara versi kedua memiliki tambahan, berbunyi, “Allohumma innaka ‘afuwwun kariim tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annaa yaa kariim,” yang berarti, “Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf yang menyukai permintaan maaf, maka maafkanlah kami, wahai Tuhan yang Maha Mulia.”
Menurut UAH, doa ini memiliki kekuatan luar biasa jika dibaca dengan keikhlasan, terutama setelah melaksanakan dua rakaat sholat. Bacaan ini seolah menjadi permohonan maaf yang paling tulus, diiringi niat yang suci untuk menghapus dosa-dosa yang telah diperbuat. UAH menekankan bahwa membaca doa tanpa keikhlasan hanya menjadi rangkaian kata-kata tanpa makna, sehingga kesungguhan hati menjadi kunci utama agar doa tersebut didengar oleh Allah.
Tak hanya sekadar bacaan, doa ini mengajarkan pentingnya penghayatan. Setiap kata dalam doa adalah harapan besar agar Allah membersihkan jiwa dari dosa. “Membaca doa ini harus dengan ikhlas, sepenuh hati. Hanya dengan cara itu doa ini benar-benar dapat membawa manfaat,” ujar UAH dalam ceramahnya, yang menggugah kesadaran jamaah akan kedalaman spiritualitas.
Praktik doa ini tidak terbatas pada waktu sholat wajib. UAH menyarankan agar doa penghapus dosa dibaca juga setelah sholat sunnah, sebagai bentuk ikhtiar memperbaiki diri. Kebiasaan ini, jika terus dilakukan, diyakini akan memberikan ketenangan batin serta keyakinan bahwa Allah selalu membuka pintu maaf bagi hamba-Nya.
Doa penghapus dosa yang diajarkan Nabi kepada Sayidah Aisyah, menurut UAH, bukan hanya bacaan suci tetapi juga pelajaran berharga tentang kerendahan hati. Dalam kehidupan sehari-hari, UAH mengingatkan bahwa meminta ampunan kepada Allah juga harus diiringi dengan perbuatan baik. Tindakan dan perkataan kita seharusnya mencerminkan doa yang dipanjatkan, menjadi bukti nyata dari ketulusan yang kita bawa di hadapan-Nya.
Bagi yang ingin lebih memahami ajaran ini, UAH memberikan semacam ijazah, yaitu izin dan dorongan bagi umat Muslim untuk mengamalkan doa ini secara rutin. “Jadikan doa ini sebagai kebiasaan,” kata UAH. Dengan menghayati setiap kata, umat Islam diharapkan mampu merasakan kedamaian dan keyakinan akan ampunan Allah.
Sebagai umat yang beriman, kita diajak untuk tidak hanya melafalkan doa ini, tetapi juga menghidupkannya dalam perbuatan sehari-hari. Mengingat bahwa ampunan Allah begitu luas, harapan UAH adalah agar setiap Muslim yang memanjatkan doa ini merasakan keberkahan dan menjadi pribadi yang lebih baik, sejalan dengan tuntunan Nabi Muhammad SAW. (**)