Minggu, Agustus 2, 2026

Kue untuk ‘Nyogok Dewa’ Kini Khas di Perayaan Imlek

MELIHAT INDONESIA, sEMARANG – Perayaan Tahun Baru Imlek selalu menghadirkan cerita unik dan tradisi mendalam yang diwariskan turun-temurun. Salah satu elemen penting yang selalu hadir adalah kue keranjang atau nian gao. Kue berbahan dasar tepung ketan dan gula ini menjadi simbol perayaan, bukan hanya karena rasa manisnya, tetapi juga kisah menarik di balik keberadaannya.

Kue keranjang, dengan tekstur lengket yang khas, menyimpan legenda yang menghubungkannya dengan Dewa Dapur. Dalam tradisi Tionghoa, Dewa Dapur dipercaya sebagai pengawas moral setiap rumah. Setiap akhir tahun, ia dikisahkan akan melaporkan perilaku penghuni rumah kepada Kaisar Giok di surga. Namun, laporan ini bisa dipengaruhi oleh hidangan yang diberikan padanya. Nian gao dibuat untuk tujuan tersebut—sebagai ‘sogokan’ yang dirancang agar mulut Dewa Dapur lengket dan tak mampu menyampaikan hal-hal buruk.

Mengutip dari laman China Highlights, cerita rakyat menyebutkan bahwa tradisi ini sudah berlangsung sejak zaman kuno. Dalam budaya Tionghoa, Dewa Dapur menjadi simbol penting yang dihormati menjelang pergantian tahun. Persembahan nian gao ini dipercaya sebagai cara untuk mengamankan keberkahan bagi rumah tangga di tahun mendatang.

Kisah kue keranjang tidak hanya berhenti pada mitos Dewa Dapur. Jejak sejarahnya dapat ditelusuri hingga lebih dari 2.000 tahun lalu. Pada masa Dinasti Zhou (abad ke-11 SM – 256 SM), konsep tahun mulai diperkenalkan melalui Kalender China. Seiring berkembangnya perayaan Tahun Baru, nian gao pun hadir sebagai persembahan untuk dewa-dewa dan leluhur. Pada masa Dinasti Tang (618 – 907 M), kue ini menjadi makanan tradisional Festival Musim Semi.

Seiring berjalannya waktu, nian gao berevolusi menjadi lebih dari sekadar persembahan. Pada masa Dinasti Qing (1636 – 1912), kue keranjang mulai dikonsumsi sebagai makanan ringan sepanjang tahun. Meski demikian, posisi istimewanya dalam perayaan Imlek tetap tak tergantikan. Kue ini tidak hanya menjadi simbol persembahan, tetapi juga harapan akan keberuntungan dan kemakmuran.

Makna nian gao sebagai lambang peningkatan diri juga tercermin dalam namanya. Secara harfiah, ‘nian gao’ berarti ‘semakin tinggi dari tahun ke tahun’. Filosofi ini mengakar dalam budaya Tionghoa, mencerminkan aspirasi untuk terus berkembang dalam berbagai aspek kehidupan seperti pekerjaan, pendidikan, dan hubungan keluarga. Tak heran, kue keranjang dianggap sebagai simbol keberuntungan yang tak boleh absen dari meja perayaan.

Menariknya, kue keranjang juga memiliki fungsi sosial yang mendalam. Selain mempererat hubungan keluarga, kehadirannya saat makan bersama dipercaya mampu menjaga harmoni. Tekstur lengketnya dianggap sebagai pengingat untuk menghindari perkataan buruk dan menjaga suasana tetap hangat.

Di Indonesia, kue keranjang menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan Imlek. Penjualannya melonjak tajam menjelang tahun baru, dengan berbagai varian rasa dan kemasan yang menarik. Meski dijual sepanjang tahun, kue ini memiliki makna spesial saat disajikan dalam suasana perayaan.

Proses pembuatannya sendiri membutuhkan ketelatenan. Tepung ketan dan gula yang menjadi bahan utama harus diolah dengan proporsi tepat agar menghasilkan tekstur kenyal dan rasa manis yang pas. Setelah itu, adonan dikukus selama berjam-jam hingga matang sempurna. Proses panjang ini mencerminkan kesabaran dan kerja keras, nilai-nilai yang juga dirayakan dalam tradisi Imlek.

Kehadiran kue keranjang juga menunjukkan bagaimana tradisi dapat bertahan di tengah modernisasi. Meski teknologi mempermudah proses produksi, esensi dari kue ini tetap terjaga. Hal ini menjadi bukti bahwa budaya dapat terus hidup, beradaptasi tanpa kehilangan akar sejarahnya.

Kini, nian gao bukan hanya menjadi bagian dari tradisi Tionghoa, tetapi juga warisan budaya yang mendunia. Banyak orang dari berbagai latar belakang turut menikmati kue ini, menjadikannya simbol inklusi yang melampaui batas budaya.

Jadi, setiap gigitan kue keranjang tidak hanya menghadirkan rasa manis, tetapi juga cerita dan harapan. Dari legenda Dewa Dapur hingga simbol kemakmuran, nian gao adalah wujud tradisi yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan. Dalam setiap perayaan Imlek, kue ini menjadi pengingat akan nilai-nilai luhur yang terus diteruskan dari generasi ke generasi. (**)

Recent PostView All

Follow Us

Recent Post

Adblock Detected

Please support us by disabling your AdBlocker extension from your browsers for our website.