Selasa, September 15, 2026

Punya Ibu Gila Belanja, Apakah Ini Zalim?

MELIHAT INDONESIA – Surga berada di telapak kaki ibu. Namun jika punya ibu yang super boros dan punya hobi gila belanja sampai mengabaikan kebutuhan keluarga bagaimana jadinya?

Kisah seperti ini sering terjadi di sekitar kita, bahkan Anda sendiri sedang mengalaminya. Semoga cobaan ini segera berakhir.

Jika demikian, situasinya mungkin menimbulkan stres bagi keluarga Anda. Ketika satu anggota keluarga memiliki kebiasaan belanja yang tidak terkendali, ini dapat menimbulkan beban finansial yang besar bagi yang lainnya.

Penting untuk berbicara secara terbuka dan jujur dengan ibu Anda tentang dampak dari kebiasaannya tersebut pada keuangan keluarga. Mungkin ada cara untuk mencari solusi bersama, seperti membuat anggaran belanja yang lebih terkendali atau membantu ibu Anda dalam memahami pentingnya mengelola keuangan secara bijaksana.

Selain itu, penting juga untuk mendukung ayah Anda dalam menangani tagihan dan memastikan bahwa kebutuhan dasar keluarga tetap terpenuhi. Komunikasi dan kerjasama dalam keluarga dapat membantu mengatasi masalah keuangan yang timbul akibat kebiasaan belanja yang berlebihan.

Mengutip arrahim.id, hal pertama yang harus dilakukan secara kompak oleh anak-anak dan ayah adalah mengatakan dengan tegas namun bijaksana bahwa apa yang dilakukan ibu adalah salah.

Perbuatan itu telah menzalimi ibu sendiri dan juga orang-orang yang mencintainya (keluargamya). Ibu berbuat zalim karena bersikap menghambur-hamburkan harta (tabdzīr/mubadzdzir) yang merupakan perbuatan setan (QS al-Isrā’ [17]: 27).

Ibu juga zalim karena telah merugikan orang lain dan membuat keluarganya menderita. Bicaralah dari hati ke hati bahwa ibu sesungghunya sedang terpedaya oleh kesenangan yang semu. Sampaikan pula kepada beliau bahwa ada kebahagiaan yang jauh lebih hakiki atas harta kita, yakni ketika kita membelanjakannya secara tepat, menginfakkannya dan menyedekahkannya untuk membantu sesama.

Dengan mengajak ibu menginfakkan harta ke sasaran yang tepat, “hasrat” mengeluarkan uang ibu tersalurkan dan mendaapat “keuntungan”, yakni kepuasan batin yang pasti lebih nikmat daripada kepuasan sesaat setelah belanja.

Jangan pernah bosan mengingatkan hal ini sambil menolak kemauan ibu yang melebihi batas. Yang penting semua harus dilakukan dengan cara yang sopan, bijak dan tanpa kekerasan. Ibu Anda membutuhkan pertolongan. Itu bukan durhaka. Sebaliknya itu bentuk bakti yang membutuhkan kesabaran tinggi dan perbuatan yang diperintahkan.

Rasulullah SAW bersabda, “Tolonglah saudaramu yang zalim atau yang dizalimi.” Rasulullah saw ditanya, “Bagaimana menolong orang yang zalim?” Rasulullah saw menjawab, “Engkau mencegah/menghalangi kezalimannya” (HR Bukhari, Ahmad, Tirmidzi). Jelas, membuat ibu berhenti dari kebiasaannya adalah bentuk pertolongan dan bakti anak yang bernilai ibadah.

Lakukan pula langkah-langkah lain semisal mendorong ibu aktif di pengajian, menghadirkan penasihat agama, psikolog untuk memberikan pencerahan kepada Ibu. Hadirkan suasana religius, saling peduli dan saling menyayangi di rumah, sehingga ibu merasa bahagia dan tentram dengan itu.

Jangan lupa terus berdoa. Bacakan surat al-Fatihah setiap selesai salat, khusus untuk memohon pertolongan Allah atas beliau. Insya Allah jika semua dilakukan dengan sabar dan ikhlas, dan berangkat dari hati yang tulus karena ingin menyelamatkan dan membahagiakan ibunda, keadaan akan berubah.

Yang penting yang mengajak ke jalan yang benar sendiri juga harus berperilaku benar, teguh dalam kebenaran itu dan bijak dalam berkata dan bersikap kepada sang bunda. “Demi masa, sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal shaleh, dan saling menasihati supaya senantiasa bersabar.” (QS al-Ashr [103]: 1-3). (**)

Recent PostView All

Follow Us

Recent Post

Adblock Detected

Please support us by disabling your AdBlocker extension from your browsers for our website.