Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menilai penerapan prinsip pasar bebas pasca-era reformasi telah mengubah arah pembangunan ekonomi nasional, termasuk di sektor pertanian. Menurutnya, mekanisme pasar membuat petani cenderung memilih komoditas yang memberikan keuntungan lebih besar dibandingkan tanaman pangan.
Sebagai contoh, Zulkifli mengatakan petani akan beralih ke komoditas perkebunan seperti kelapa sawit apabila menanam padi tidak lagi memberikan keuntungan yang memadai.
“Kalau menanam padi tidak untung, ya tanam sawit,” ujar Zulkifli Hasan saat menjadi pembicara dalam Seminar Nasional Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP), Selasa (4/8/2026).
Pernyataan tersebut kemudian ramai diperbincangkan di media sosial. Sejumlah warganet menanggapinya dengan nada satire dan banyolan, mengaku geram karena berbagai persoalan kerap dikaitkan dengan sawit. Ada pula yang mempertanyakan logika di balik pernyataan tersebut.
Salah satu akun @as** berkomentar, “Kalau mau untung lagi tanam ganja pak 😂😂😂😂. Ngeri betul mentri pikirannya seperti itu.”
Sementara akun @a****e menulis, “Logika macam apa ini 🤣🤣🤣 retak lah gigi ini ngunyah sawit 😂.”
Pernyataan Zulhas juga memicu diskusi lebih luas mengenai arah kebijakan pangan nasional. Sejumlah warganet mempertanyakan mengapa komoditas yang terus dijadikan contoh justru kelapa sawit, padahal kebutuhan pangan pokok masyarakat Indonesia bertumpu pada beras, sagu di sejumlah wilayah timur, serta gandum yang selama ini masih banyak diimpor.
Mereka menilai, jika pertimbangan utama petani terus diarahkan pada komoditas yang paling menguntungkan, muncul pertanyaan apakah orientasi pembangunan pertanian cukup didasarkan pada aspek keuntungan ekonomi semata, tanpa mempertimbangkan kebutuhan pangan strategis masyarakat dan upaya menjaga ketahanan pangan nasional.
Di tengah perdebatan tersebut, publik pun mempertanyakan bagaimana pemerintah menyeimbangkan kepentingan ekonomi petani dengan kebutuhan pangan masyarakat luas. Sebab, ketahanan pangan bukan hanya soal komoditas yang memberikan keuntungan terbesar, tetapi juga memastikan ketersediaan bahan pangan pokok bagi masyarakat Indonesia.