Sabtu, Agustus 8, 2026

Sebuah Ironi, Ternyata Kunjungan Masyarakat Ke Rumah Pria Solo Tak Mampu Ikut Hidupkan Lagi PGS.

Pusat Grosir Solo (PGS) resmi menutup operasionalnya pada Jumat (7/8/2026) setelah lebih dari dua dekade menjadi salah satu ikon wisata belanja Kota Solo. Gedung lima lantai di Jalan Mayor Sunaryo, Pasar Kliwon, itu kini hanya menyisakan lorong-lorong kosong dan pedagang yang membereskan barang dagangan.

Penutupan ini menyusul keputusan Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Semarang yang menyatakan PGS pailit pada 9 Februari 2026. 

Pengosongan dilakukan selama tujuh hari, sejak 1 hingga 7 Agustus 2026, di bawah pengawasan kurator.

Padahal, PGS pernah berada di masa kejayaan. Dari sekitar 1.200 kios, pusat grosir ini ramai dikunjungi wisatawan dari berbagai daerah. Bus-bus pariwisata dari luar kota hingga mancanegara bahkan kerap memenuhi area parkirnya.

Menariknya, digitalisasi disebut bukan menjadi penyebab utama tumbangnya PGS. Pedagang disebut telah mengikuti perkembangan perdagangan daring. Justru pandemi Covid-19 yang menghantam sektor pariwisata menjadi pukulan besar karena PGS sangat bergantung pada kunjungan wisatawan dari luar daerah.

“Digitalisasi bukan faktor utama ya. Karena kita juga mengikuti. Jadi pedagang di sini mereka juga online,” ujar perwakilan manajemen di bawah kurator, Bachtiar Ibnu Fadzli.

Pemulihan pascapandemi pun berjalan lambat. Ketika pariwisata Solo mulai kembali bergeliat, PGS justru menghadapi persoalan investasi dan internal perusahaan yang akhirnya berujung pada kepailitan.

Di titik ini, muncul pula sindiran sekaligus pertanyaan publik. Solo selama beberapa tahun terakhir tetap menjadi kota yang ramai dikunjungi wisatawan. Rumah Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) di Solo juga kerap menjadi salah satu lokasi yang didatangi masyarakat.

Belum lagi Masjid Raya Sheikh Zayed yang menjadi salah satu destinasi wisata religi di Solo dan ramai dikunjungi wisatawan. Secara logika, arus wisatawan ke berbagai destinasi tersebut semestinya bisa menjadi peluang bagi pusat-pusat perdagangan di sekitarnya untuk kembali menggeliat, termasuk PGS yang sejak dulu dikenal sebagai destinasi belanja.

Namun kenyataannya, peluang itu tidak cukup untuk menyelamatkan PGS. Kalau wisatawan memang terus berdatangan ke Solo, masa iya mereka hanya datang ke satu-dua titik tetapi tidak ikut menghidupkan pusat perdagangan legendaris seperti PGS?

Tentu, hal tersebut bukan berarti wisatawan bertanggung jawab atas tutupnya PGS. Namun, kondisi ini menjadi ironi ketika sebuah kota tetap ramai dikunjungi, sementara pusat perdagangan yang pernah menjadi magnet wisata belanja justru harus menutup pintunya.

Menjelang penutupan, hanya sekitar 60 kios yang masih bertahan. Kini rolling door toko-toko telah tertutup dan PGS resmi mengakhiri perjalanan lebih dari dua dekade.

PGS pun meninggalkan pertanyaan: apakah ramainya wisatawan otomatis membuat pelaku usaha lokal ikut menikmati manfaatnya, atau ada persoalan lain yang membuat geliat pariwisata tidak sepenuhnya mengalir ke pusat perdagangan kota?

Recent PostView All

Follow Us

Recent Post

Adblock Detected

Please support us by disabling your AdBlocker extension from your browsers for our website.