JAKARTA — Nama PT Bank Mandiri (Persero) Tbk kembali menjadi sorotan dalam sejumlah investigasi dan sengketa terkait transaksi serta pembiayaan. Isunya mencakup bocoran FinCEN Files, gugatan terkait pembiayaan yang dikaitkan dengan deforestasi, hingga fasilitas kredit kepada perusahaan yang terafiliasi dengan kelompok usaha Haji Isam.
Tercatat dalam FinCEN Files
Dalam bocoran FinCEN Files, Bank Mandiri tercatat dalam 111 transaksi yang diidentifikasi sebagai mencurigakan dengan nilai sekitar US$250,39 juta atau Rp3,7 triliun.
Transaksi tersebut berlangsung pada 2013 hingga 2017 dan diproses melalui sejumlah bank berbasis di Amerika Serikat. FinCEN Files sendiri memuat ribuan laporan aktivitas mencurigakan yang diajukan perbankan kepada Financial Crimes Enforcement Network (FinCEN).
Menanggapi hal tersebut, Bank Mandiri menyatakan komitmennya mencegah masuknya dana hasil kejahatan melalui sistem perbankan.
Digugat Terkait Pembiayaan Deforestasi
Pada 2025, Transformasi untuk Keadilan Indonesia (TuK INDONESIA) menggugat Bank Mandiri di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan terkait pembiayaan kepada PT Agro Nusa Abadi (ANA), bagian dari Astra Agro Lestari.
Pembiayaan tersebut dipersoalkan karena ANA diduga terlibat dalam deforestasi, konflik agraria, dan persoalan hak masyarakat. Sejumlah organisasi sipil turut mendukung gugatan melalui amicus curiae.
Namun, pada Juli 2025, PN Jakarta Selatan menyatakan gugatan tersebut tidak dapat diterima (Niet Ontvankelijke Verklaard/NO) karena alasan formal.
Fasilitas Kredit Perusahaan Haji Isam
Sorotan lainnya datang dari fasilitas kredit Bank Mandiri kepada PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR), perusahaan yang dikaitkan dengan pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam.
Pada 2023, JARR memperoleh kredit investasi Rp500 miliar. Setahun kemudian, perusahaan kembali mendapatkan fasilitas kredit Rp1,4 triliun dengan tenor delapan tahun. Kredit tersebut antara lain digunakan untuk melunasi kewajiban perusahaan kepada Bank Mandiri dengan sejumlah aset sebagai jaminan.
Meski Haji Isam tidak tercatat sebagai direksi maupun komisaris JARR, ia disebut sebagai pemegang saham terbesar sekaligus ultimate beneficial owner.
Reputasi Bank Mandiri Dipertaruhkan
Berbagai persoalan tersebut berasal dari konteks berbeda dan tidak otomatis menunjukkan adanya pelanggaran oleh Bank Mandiri. Namun, kemunculannya dalam sejumlah isu membuat pengawasan transaksi, due diligence, serta prinsip kehati-hatian dalam pembiayaan kembali menjadi sorotan.
Bank Mandiri sendiri menegaskan komitmennya mematuhi aturan perbankan, termasuk penerapan prinsip anti pencucian uang dan pencegahan pendanaan terorisme.