Jumat, September 18, 2026

Tolak Mentah-mentah Data CELIOS Soal Keracunan Makan Gratis Mencapai 50.000, Gerindra: Tidak Masuk Akal!

JAKARTA – Angka korban dugaan keracunan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali memicu polemik. CELIOS memperkirakan jumlah korban telah mencapai sekitar 50 ribu orang, namun angka tersebut dipertanyakan Partai Gerindra.

Peneliti CELIOS Galau D. Muhammad mengatakan tingginya angka tersebut semestinya menjadi bahan evaluasi pemerintah, terutama untuk memperbaiki tata kelola dan pengawasan pelaksanaan MBG di lapangan.

“Masalah keracunan makanan dalam program MBG ini adalah isu yang sangat serius. Ini memerlukan pembenahan tata kelola yang menyeluruh serta pengawasan ketat di lapangan agar tidak terus berulang,” kata Galau.

Sementara itu, Juru Bicara Partai Gerindra Sugiat Santoso mempertanyakan validitas angka 50 ribu korban yang disampaikan CELIOS. Ia meminta lembaga tersebut menjelaskan metode pengumpulan data serta sumber angka yang digunakan.

“Kami mempertanyakan kebenaran data 50.000 korban keracunan tersebut,” kata Sugiat.

Ia juga mempertanyakan jumlah dapur MBG yang menjadi dasar perhitungan CELIOS.

“Dari mana asal angkanya? Berapa jumlah dapur yang terlibat sehingga bisa muncul data sebesar itu?” ujarnya.

Sugiat menilai angka tersebut tidak masuk akal. Namun, data surveilans Kementerian Kesehatan yang dikutip per 2 September 2026 mencatat 50.059 orang terdampak dari 560 kejadian di 245 kabupaten/kota terkait keracunan makanan dalam program MBG.

Sementara itu, CELIOS dalam kajiannya juga mencatat jumlah korban dalam kisaran puluhan ribu berdasarkan pemantauan kasus yang mereka lakukan.

Jika laporan keracunan MBG terus muncul dari berbagai daerah hampir setiap hari, lalu di mana letak angka puluhan ribu korban disebut tidak masuk akal? Terlebih, data Kemenkes sendiri mencatat jumlah korban dalam kisaran yang sama. Perdebatan akhirnya bukan sekadar soal angka, tetapi alasan di balik penolakan terhadap data tersebut.

Kasus gangguan kesehatan terkait MBG sebelumnya telah dilaporkan di sejumlah daerah. Rangkaian kejadian tersebut membuat persoalan keamanan pangan, pengawasan SPPG, hingga mekanisme pencatatan korban terus menjadi perhatian publik.

Recent PostView All

Follow Us

Recent Post

Adblock Detected

Please support us by disabling your AdBlocker extension from your browsers for our website.