Kegaduhan publik akhir-akhir ini datang dari dunia politik, para tokoh elit politik sibuk dengan perannya masing-masing, dalam rangka menyambut pesta demokrasi 2024 mendatang.
Ada yang bersikap natural, biasa aja gitu, hingga melebih-lebihkan segala sesuatu, membuat huru-hara tentang cerita lama. Ada juga yang diam-diam menghindari kawannya yang saat ini dianggap sebagai musuhnya di pilpres 2024 nanti.
Sedih rasanya, saat hati memilih untuk selalu menempatkan diri menjadi waras, untuk enggak asal menilai sebuah kepemimpinan presiden RI ke enam itu, eh malah dikejutkan dengan pidato panjangnya SBY tempo hari yang menetapkan langkah untuk “turun gunung” dalam pilpres 2024 mendatang.
Kenapa kata “turun gunung” selalu ia sematkan dalam ucapan yang dia lontarkan, seolah-olah tindakannya berpengaruh besar di setiap problematika di tanah air ini. “Turun gunung”nya SBY dari waktu ke waktu selalu mengundang cuitan warga +62.
Mulai dari “turun gunung” 2014, kisruh DPR, “turun gunung”nya menjadi jurkam partai mercynya di pemilu 2014, “turun gunung” 2017 untuk memenangkan Agus-Sylvi. “Turun gunung”nya lagi tahun 2018 saat kerugian melanda partai yang dia bangga-banggakannya, “turun gunung”nya saat pilpres 2019, hingga saat ini hebohnya dia yang memantabkan langkah “turun gunung”nya dalam pilpres 2024 mendatang.
Memang itu haknya sebagai presiden ke enam RI untuk mengawal pilpres 2024 nantinya berjalan dengan baik. Namun siapa sangka kalau nyatanya dia memiliki tujuan lain…
“Bapak kenapa malah ikut-ikutan anaknya sih?”, geramku.
Ya, seperti yang kusebutkan sebelumnya, darah memang lebih kental dari pada air. Kondisi terburukpun seorang bapak akan melakukan yang terbaik untuk anaknya.
Tapi, ingat pak, banyak peringatan di belakangmu agar tidak memaksakan kehendak. Anak karbitanmu itu belum memenuhi kualitas kandidat calon presiden RI 2024, jabatan ini bukan untuk main-main, please.
“Kasian langkah kaki anakmu yang terbirit-birit nanti, pastinya akan banyak tersandung dan dirundung gelakan tawa sana-sini, pak!”.
Beginilah susasana keruh yang diciptakan oleh seorang anak di bawah bayangan bapaknya.
Hoax digaungkan SBY dalam pidatonya tempo hari, penilaiannya yang menyebutkan banyaknya ketidakadilan yang terjadi di pilpres 2024 nanti. Apa lagi tujuannya kalau bukan membela anaknya, yang tempo hari menyebarkan hoax tentang proyek Jokowi adalah tinggalan dari pemerintahannya.
Hoax lainnya yang dikoarkan SBY dalam pidatonya ialah kabar burung yang sampai ke telinganya mengenai capres dan cawapres 2024 nanti hanya 2 pasang. Hingga selentingan kabar terdengar bahwa demokrat sebagai oposisi akan dipersulit berkoalisi dalam pilpres 2024.
Bagaimana, sudah nampak bukan maksud dari “turun gunung” yang selalu dikobarkan oleh SBY di setiap kesempatannya berretorika di depan masyarakat?, seolah-olah “turun gunung”nya dia akan membawa dampak besar bagi Indonesia, padahal tak lain lagi untuk memujurkan kepentingan pribadinya, membawa keluarganya tetap eksis di Indonesia, khususnya dunia politik yang telah membesarkan namanya.
Ingat ndak ya pilpres 2009 dulu banyak kekacauan yang terjadi, dan datangnya kekacauan itu dari kubunya. Partai mercy itu melakukan banyak kecurangan dalam penghitungan suara di beberapa daerah, banyak jumlah DPT digandakan dan dimanipulasi.
Dari manipulasi DPT itu keuntungan jatuh di pihak partai demokrat, DPT yang digelembungkan masuk ke kantong suara SBY-Boediono. Kubu Mega-Prabowo dan JK-Wiranto saat itu telah mengendus kecurangan tersebut hingga terkumpulah bukti sebanyak 58 buah.
Namun oleh Mahkamah Konstitusi gugatan tersebut ditolak dengan alasan bukti kecurangan secara masif dan terstruktur yang dibawakan kedua kubu tidak terbukti.
Kecurangan pilpres 2009 ini sudah terdengar di banyak telinga. Selentingan kabar buruk tidak hanya satu dua saja kala itu. Aksinya ini mengundang berbagai tuaian kritik dari berbagai kalangan khususnya dalam dunia politik.
Seperti halnya PDI-P yang membongkar kedok di belakang pilpres 2009 silam. Manipulasi DPT hanya salah satu kecurangan yang nampak kala itu, kecurangan lain yang dibongkar oleh Hasto Kristiyanto, sekjen PDI-P, adalah SBY memusnahkan data-data pemilu dengan melahirkan tim senyap saat itu.
Kecurangan yang tak kalah besarnya yang dilontarkan melalui tulisan kanal berita ialah saat demokrat dengan liciknya merekrut mantan KPU, salah satunya Anas Urbaningrum. Ingat bukan dengan Anas Urbaningrum?, ketua umum partai demokrat yang ikut serta dalam praktik korupsi Hambalang, salah satu proyek SBY yang mangkrak dan tentunya penuh kontroversial.
Sekarang memang saatnya mulai mempersiapkan pesta demokrasi 2024 mendatang, tapi…. tolong para elit politikku, yang rasional, semua yang terbaik untuk NKRI, jangan karena kepentingan pribadi, NKRI jadi pecah dan rakyat jadi korbannya. Mari kita kawal pesta demokrasi dengan asasnya LUBER (Langsung, Umum, Bebas, dan Rahasia) JURDIL (Jujur dan Adil), dalam rangka mencari orang yang tepat untuk menempati singgasana pemimpin Indonesia.
Nikmatul Sugiyarto